Mancini Kembali ke Pangkuan Italia: Misi Membangkitkan Kembali Kejayaan Azzurri
Baca dalam 60 detik
- Roberto Mancini resmi kembali menukangi Timnas Italia dengan kontrak empat tahun, bertekad mengakhiri puasa gelar sejak Euro 2020.
- Kepulangan Mancini terjadi setelah rencana menunjuk Andrea Pirlo gagal karena keterkaitannya dengan perusahaan taruhan Rusia.
- FIGC juga menunjuk Claudio Ranieri sebagai direktur teknis untuk mengawasi pengembangan sepak bola elite Italia.

Roberto Mancini kembali dipercaya menukangi Timnas Italia setelah absen dua tahun, dengan misi membangkitkan kembali kejayaan Azzurri yang telah lama dinantikan publik. Pelatih berusia 61 tahun itu menandatangani kontrak berdurasi empat tahun dan berjanji akan membawa Italia meraih trofi bergengsi, setelah terakhir kali mengangkat Piala Eropa 2020 di bawah kepemimpinannya.
Mancini bukan wajah baru di kursi pelatih Italia. Ia sebelumnya menangani Gli Azzurri sejak 2018 hingga 2023, menorehkan rekor tak terkalahkan selama 37 pertandingan dalam tiga tahun โ sebuah pencapaian yang baru saja dilampaui Spanyol tahun ini. Namun, kepergiannya secara mendadak ke Arab Saudi pada 2023, hanya beberapa hari setelah mendapat tanggung jawab tambahan untuk tim U-21 dan U-20, meninggalkan luka di hati para penggemar.
โSaya akan berusaha membuat tim ini begitu indah dan bermain sangat baik sehingga para penggemar jatuh cinta lagi, dan mungkin memaafkan apa yang terjadi,โ ujar Mancini dalam konferensi pers perdananya setelah diangkat kembali, Rabu (29/7). Ia sadar bahwa tugas pertama yang harus dijalani adalah merebut kembali hati publik yang sempat kecewa.
Kepulangan Mancini tidak lepas dari kegagalan rencana awal FIGC yang ingin menunjuk Andrea Pirlo. Rencana tersebut batal setelah terungkapnya hubungan Pirlo dengan perusahaan taruhan asal Rusia, yang memicu mundurnya Paolo Maldini dan Leonardo dari posisi kunci di federasi. FIGC kemudian bergerak cepat dengan mengontrak Mancini dan menunjuk Claudio Ranieri sebagai direktur teknis untuk memperkuat fondasi pembinaan pemain.
Mancini optimistis dengan talenta yang dimiliki pemain Italia saat ini. Ia mendesak klub-klub Serie A untuk lebih banyak memberikan menit bermain kepada pemain muda. โAda dua hal yang paling saya inginkan: pertama, membuat penggemar Italia jatuh cinta lagi dengan tim nasional; kedua, memastikan anak-anak seperti keponakan saya yang berusia 12 tahun, yang belum pernah melihat Italia bermain di Piala Dunia, bisa merasakannya,โ tegasnya.
Laga perdana Mancini di periode keduanya akan menjadi ujian berat: menghadapi Belgia di Nations League pada 25 September di Roma, disusul laga kandang melawan Turki di Bologna pada 5 Oktober. โIni akan menjadi pertandingan penting. Kami akan segera mengukur kekuatan dan mengidentifikasi area yang perlu diperbaiki. Grup ini sulit, tetapi akan sulit juga bagi lawan-lawan kami,โ ujar Mancini.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah Mancini memberikan pelajaran tentang pentingnya konsistensi dan manajemen suksesi. Indonesia, yang juga berjuang membangun tim nasional kompetitif, dapat mencontoh pendekatan FIGC yang tidak ragu mengubah haluan demi hasil jangka panjang. Kehadiran figur senior seperti Ranieri juga menunjukkan pentingnya struktur pembinaan yang solid, bukan sekadar mengandalkan pelatih bintang.
Pertanyaan besarnya: akankah Mancini mampu mengulang sukses Euro 2020 dan membawa Italia kembali ke panggung Piala Dunia? Atau justru sejarah kegagalan kualifikasi akan kembali terulang? Jawabannya akan mulai terlihat dalam laga-laga Nations League mendatang.



