The Fed Tahan Suku Bunga, Tiga Anggota FOMC Pilih Naikkan: Sinyal Perang Melawan Inflasi Belum Usai
Baca dalam 60 detik
- Federal Reserve mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50-3,75%, namun tiga pejabat regional memilih kenaikan 25 basis poin, menandakan perpecahan di internal bank sentral.
- Ketua Fed Kevin Warsh menegaskan komitmennya mengembalikan inflasi ke target 2% tanpa keraguan, meskipun tekanan harga masih dipengaruhi perang Timur Tengah dan belanja AI.
- Pasar kini melihat 57% probabilitas kenaikan suku bunga pada September, dengan data inflasi dan ketenagakerjaan dua bulan ke depan menjadi penentu utama.

Federal Reserve (The Fed) memutuskan untuk menahan suku bunga acuan di level 3,50 hingga 3,75 persen pada Rabu (29/7), sebuah langkah yang justru memunculkan tanda tanya besar tentang konsistensi Gubernur Kevin Warsh dalam menekan inflasi ke sasaran 2 persen. Keputusan yang sudah diantisipasi pasar ini tidak berlangsung mulus: tiga dari dua belas anggota Federal Open Market Committee (FOMC) menyatakan tidak setuju dan memilih kenaikan seperempat poin persentase.
Tiga pejabat yang berseberangan—presiden bank sentral regional Cleveland, Dallas, dan Minneapolis—sebelumnya juga telah memberikan suara berbeda pada pertemuan terakhir era Jerome Powell pada April lalu. Saat itu, mereka mendorong penghapusan janji penurunan suku bunga dari pernyataan kebijakan. Kini, dengan inflasi yang masih berada di atas target selama lebih dari lima tahun, tekanan untuk bertindak lebih agresif semakin kuat.
Warsh, yang menjabat sejak Mei, telah berulang kali menyatakan "tidak ada toleransi" terhadap inflasi yang terus meninggi, didorong oleh perang di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga energi dan pangan, serta investasi besar-besaran di pusat data dan belanja terkait kecerdasan buatan (AI). Dalam konferensi pers usai pertemuan, ia menegaskan, "Lima tahun lebih inflasi di atas target tidak bisa disembuhkan dalam sembilan minggu atau dengan satu bulan penurunan harga yang sederhana. The Fed ini tidak akan goyah."
Meski enggan membeberkan langkah selanjutnya, Warsh memberi sinyal bahwa bank sentral siap bertindak jika diperlukan. "Keputusan komite ini sangat berarti, dan jika perlu serta tepat, kami tidak akan ragu untuk bertindak," ujarnya. Ia juga menyambut baik kenaikan imbal hasil obligasi sejak pertemuan terakhir, yang mencerminkan ekspektasi pasar akan suku bunga lebih tinggi, namun menekankan bahwa The Fed tidak serta-merta harus meratifikasinya dengan kebijakan.
Pasar obligasi bereaksi cepat. Kurva imbal hasil (yield curve) yang sebelumnya mendatar—dengan imbal hasil jangka pendek naik lebih tajam daripada jangka panjang—kini berbalik tajam. Imbal hasil surat utang 2 tahun justru turun, sementara tenor 10 tahun dan 30 tahun melonjak. Imbal hasil obligasi 30 tahun bahkan menembus level 5,20 persen, tertinggi sejak 2007. Pergerakan ini mengindikasikan investor mulai memperhitungkan risiko inflasi yang lebih persisten.
Para ekonom mulai merevisi proyeksi mereka. Omair Sharif, pendiri Inflation Insights, memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga 25 basis poin pada September, kecuali data pasar tenaga kerja ambruk atau inflasi inti mendekati 2 persen secara tahunan—yang ia nilai tidak akan terjadi pada data Juli atau Agustus. "Pada tahap ini, saya pikir kita harus mengharapkan FOMC menaikkan suku bunga pada September," katanya.
Namun, tidak semua pihak sepakat. Kathy Bostjancic, ekonom utama Nationwide, menilai banyaknya suara berbeda justru menunjukkan sikap hawkish yang meningkat di kalangan pembuat kebijakan. Meski demikian, ia berargumen bahwa The Fed sebaiknya tetap bertahan tahun ini karena suku bunga yang lebih tinggi tidak akan menyelesaikan guncangan pasokan energi dari Timur Tengah atau memperlambat belanja AI yang mendorong kenaikan harga. "The Fed bisa dan harus tetap bertahan tahun ini," tulisnya dalam catatan riset.
Keputusan The Fed memiliki implikasi langsung bagi Indonesia. Bank Indonesia (BI) selama ini merujuk pada pergerakan suku bunga AS dalam menentukan kebijakan moneternya. Jika The Fed akhirnya menaikkan suku bunga pada September, tekanan terhadap rupiah dan arus modal asing kemungkinan akan meningkat. BI mungkin perlu menyesuaikan suku bunga acuan untuk menjaga stabilitas nilai tukar, meskipun hal itu berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi domestik. Investor Indonesia pun harus mencermati pergerakan imbal hasil obligasi AS karena dapat memicu koreksi di pasar surat utang negara (SUN).
Warsh sendiri belum memberikan petunjuk jelas mengenai arah suku bunga ke depan. Ia hanya menyebut ekspektasi bahwa produktivitas yang didorong AI akan memungkinkan ekonomi tumbuh lebih cepat tanpa memicu inflasi. Namun, dengan dua laporan inflasi dan data ketenagakerjaan yang akan dirilis sebelum pertemuan September, pertanyaan besarnya adalah: akankah data tersebut cukup untuk meyakinkan para pejabat hawkish bahwa pengetatan sudah cukup, atau justru memicu langkah yang lebih agresif?



