Infantino Bantah Rencana Jual Saham Piala Dunia Bersifat Mengikat
Baca dalam 60 detik
- FIFA menyiapkan anak usaha senilai 20 miliar dolar AS untuk mengelola Piala Dunia dan menawarkan hingga 20% saham ke investor eksternal.
- Rencana itu memicu reaksi keras dari konfederasi regional sepak bola yang merasa tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan.
- Presiden FIFA menegaskan langkah ini masih bersifat konsultatif dan tidak akan mengubah prinsip tata kelola organisasi.

Presiden FIFA Gianni Infantino menyebut rencana penjualan saham penyelenggaraan Piala Dunia sebagai sebuah proposal yang tidak bersifat mengikat, setelah gagasan tersebut menuai kecaman dari sejumlah otoritas sepak bola dunia.
Dalam pernyataan yang dirilis Rabu (29/7), Infantino menegaskan bahwa FIFA tetap akan menjalankan tata kelola sepak bola tanpa campur tangan pihak luar. Ia juga memastikan turnamen utama seperti Piala Dunia pria dan wanita tidak akan hilang. Namun, pernyataan itu belum sepenuhnya meredam kekhawatiran para pemangku kepentingan.
Sebelumnya, FIFA mengumumkan rencana pembentukan anak usaha senilai 20 miliar dolar AS yang akan mengelola Piala Dunia dan event-event lainnya. Dalam skema itu, FIFA akan menawarkan hingga 20 persen saham kepada investor eksternal. Langkah ini disebut sebagai upaya memperkuat sisi komersial organisasi yang selama ini bergantung pada pendapatan hak siar dan sponsor.
Reaksi keras datang dari konfederasi regional yang merasa dikejutkan oleh rencana tersebut. Mereka menilai FIFA tidak melakukan konsultasi yang memadai sebelum mengumumkan gagasan yang berpotensi mengubah lanskap bisnis sepak bola global. Infantino, bagaimanapun, membantah tuduhan itu. Ia menyebut langkah ini sebagai bagian dari proses demokrasi dan konsultasi, bukan kewajiban yang harus dijalankan.
Bagi Indonesia, rencana ini patut dicermati. PSSI dan klub-klub Liga 1 tentu berharap FIFA tetap menjaga independensi dan tidak membiarkan kepentingan investor mengganggu perkembangan sepak bola di negara berkembang. Jika investor eksternal masuk, ada kekhawatiran biaya penyelenggaraan turnamen akan meningkat dan berdampak pada alokasi dana untuk pengembangan sepak bola akar rumput.
Infantino menambahkan bahwa penggemar akan tetap menjadi pilar utama sepak bola. Namun, pertanyaan yang muncul adalah sejauh mana kepentingan investor dapat memengaruhi kebijakan FIFA di masa depan. Dengan nilai investasi yang sangat besar, tekanan untuk menghasilkan keuntungan bisa mengubah prioritas organisasi.
Ke depan, FIFA akan menjalani proses konsultasi dengan seluruh pemangku kepentingan sebelum mengambil keputusan final. Apakah rencana ini akan berjalan mulus atau justru memicu perpecahan di tubuh sepak bola dunia? Yang jelas, langkah FIFA kali ini menjadi ujian bagi komitmen organisasi terhadap prinsip tata kelola yang transparan dan inklusif.



