Pasca Piala Dunia 2026, MLS Raup Lonjakan Penjualan Tiket 62 Persen
Baca dalam 60 detik
- MLS mencatat kenaikan penjualan tiket hingga 62% dan rating TV 40-50% setelah Piala Dunia 2026, yang disebut sebagai 'bahan bakar roket' bagi pertumbuhan liga.
- Komisioner Don Garber mengungkapkan strategi pasca-turnamen termasuk rekrutmen bintang Piala Dunia, festival komunitas, dan kerja sama dengan federasi sepak bola AS.
- Garber membuka peluang insentif baru bagi klub yang mengembangkan pemain lokal, serta menegaskan kemitraan erat dengan Liga MX tanpa rencana merger dalam waktu dekat.

Liga sepak bola Amerika Serikat, Major League Soccer (MLS), mencatat lonjakan penjualan tiket hingga 62 persen dan kenaikan rating televisi antara 40 hingga 50 persen dalam sepekan setelah Piala Dunia 2026 usai. Komisioner MLS Don Garber menyebut turnamen yang digelar bersama Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko itu sebagai "bahan bakar roket" yang mendorong pertumbuhan sepak bola di Negeri Paman Sam ke level berikutnya.
Dalam wawancara dengan Reuters, Garber mengungkapkan bahwa MLS telah memanfaatkan gelombang antusiasme publik yang belum pernah terjadi sebelumnya. "Kami tidak ingin ini hanya menjadi momen sesaat. Kami ingin ini menjadi pendorong bagi generasi pertumbuhan berikutnya," ujarnya. Sejak hak tuan rumah diperoleh pada 2018, Piala Dunia telah menjadi "bintang utara" bagi pengembangan liga.
Untuk mengabadikan momentum pasca-turnamen, MLS meluncurkan kampanye pemasaran nasional bertajuk "Thanks world, we'll take it from here." Strategi ini mencakup tiga pilar utama: mengintegrasikan pemain bintang Piala Dunia ke dalam skuat MLS, memperluas festival penggemar komunitas, dan berkolaborasi dengan Federasi Sepak Bola AS (US Soccer) untuk memanfaatkan profil olahraga yang kian meningkat.
Meskipun timnas AS tersingkir di babak 16 besar, Garber tetap optimistis terhadap perkembangan pemain muda. Ia menekankan pentingnya perspektif jangka panjang dalam pembinaan pemain. "Kita harus terus menjadi lebih baik dalam mengembangkan pemain dan mengelola jalur mereka sejak usia di bawah 10 tahun hingga layak masuk tim nasional senior," katanya. Untuk mendukung hal ini, Garber membuka peluang untuk menjajaki insentif baru bagi klub yang memprioritaskan pengembangan pemain domestik, meskipun belum ada perubahan aturan yang difinalisasi.
Di sisi lain, Garber juga menyoroti hubungan yang semakin erat antara MLS dan Liga MX Meksiko. Banyak pemain terbaik dari kedua liga akan bertanding dalam MLS All-Star Game di Charlotte. Meskipun menepis kemungkinan merger dalam waktu dekat, Garber menggambarkan kemitraan ini sudah seperti "pernikahan" setelah sebelumnya hanya "berkencan". Kedua liga harus terus bekerja sama untuk menangkap momentum pasca-Piala Dunia di Amerika Utara.
Ke depan, Garber menunjuk Olimpiade Los Angeles 2028 sebagai katalis besar berikutnya bagi sepak bola AS. Ia berharap tim U-23 AS bisa bersaing memperebutkan medali emas di kandang sendiri. Komisioner yang telah menjabat lama ini juga mengonfirmasi bahwa MLS sedang menjalani proses suksesi yang "robust". Kontrak Garber berlaku hingga 2027, dan ia diperkirakan akan tetap dalam peran kepemimpinan hingga periode tersebut, dengan detail transisi akan diumumkan segera.
Bagi Indonesia, lonjakan popularitas MLS pasca-Piala Dunia menjadi pelajaran berharga. Dengan Indonesia yang juga memiliki basis penggemar sepak bola besar, potensi memanfaatkan turnamen internasional untuk mendongkrak industri liga domestik sangat terbuka. Namun, hal itu membutuhkan strategi jangka panjang yang terintegrasi, mulai dari pembinaan usia dini hingga kerja sama dengan federasi dan klub. Akankah PSSI dan Liga Indonesia mampu meniru resep MLS?



