Angharad Evans, Perenang Gugup yang Menggebrak Commonwealth Games
Baca dalam 60 detik
- Evans mengaku sebagai perenang gugup, namun berhasil memborong dua emas dan dua medali estafet di Glasgow.
- Strategi menekan ekspektasi dan fokus pada proses menjadi kunci suksesnya di ajang multi-event.
- Kisahnya bisa menjadi inspirasi bagi atlet Indonesia dalam mengelola tekanan mental di kompetisi besar.

Perenang Skotlandia, Angharad Evans, yang secara terbuka menyebut dirinya sebagai "perenang gugup", justru menjelma menjadi bintang terbesar kontingennya di Commonwealth Games Glasgow 2026. Ia mempersembahkan dua medali emas di nomor 100 meter dan 200 meter gaya dada, ditambah satu perak dan satu perunggu dari estafet.
Alih-alih membayangkan podium, Evans memilih mematung dari ekspektasi medali. Strategi itu terbukti efektif. Setelah start lambat di final 200 meter gaya dada, ia melesat dan finis terdepan di tengah gemuruh pendukung Tollcross. Ini langkah besar dalam karier saya. Saya tidak menyembunyikan rasa gugup, saya buktikan bahwa saya tetap bisa meraih medali meski dalam tekanan,
ujarnya kepada BBC Scotland.
Tak banyak yang meramalkan kesuksesan Evans. Hanya Duncan Scott, rekan latihnya di Universitas Stirling, yang percaya ia bisa bersinar di Glasgow. Kini, setelah memenangi empat medali di depan publik sendiri, standar ekspektasi Evans tak akan pernah rendah lagi. Ia mengaku mengelola kecemasan dengan cara mendisosiasikan
diri dari hasil akhir.
Kisah Evans memberikan pelajaran berharga bagi dunia olahraga Indonesia. Di tengah sorotan terhadap prestasi atlet Tanah Air, aspek psikologis kerap terabaikan. Cara Evans mengakui rasa gugup dan menjadikannya energi positif patut dicontoh. Tim psikolog olahraga Indonesia dapat mengambil inspirasi dari pendekatan mental yang ia gunakan: fokus pada proses, bukan hasil, serta membangun dukungan tim yang solid.
Keberhasilan Evans tidak berdiri sendiri. Toni Shaw dari Aberdeen mengulang raihan perunggu seperti di Birmingham, sementara Keanna MacInnes menyabet dua perak dan satu perak estafet. Pelatih kepala Skotlandia memuji kedalaman skuad yang tidak hanya mengandalkan satu atlet. Banyak final diikuti beberapa perenang Skotlandia, itu menunjukkan kekuatan tim,
kata MacInnes.
Kini Evans dihadapkan pada Kejuaraan Eropa pekan depan. Saya akan mengambil napas dulu, lalu melangkah ke Eropa,
katanya. Pertanyaan besarnya: mampukah ia mempertahankan performa dan menjadikan Glasgow sebagai batu loncatan menuju panggung yang lebih besar? Atlet dan penggemar di Indonesia tentu akan mengikuti perkembangannya dengan saksama.



