Logo Apple Menyala Kembali di MacBook Pro, tapi Ada Cara Mematikannya
Baca dalam 60 detik
- Apple menghadirkan kembali logo menyala pada MacBook Pro setelah absen sejak 2016, kali ini dengan teknologi illuminasi adaptif.
- Pengguna yang tidak menyukai logo menyala dapat mematikannya melalui Terminal, meski opsi ini tersembunyi dan memerlukan kata sandi administrator.
- Keputusan Apple menghidupkan kembali fitur ikonik ini menuai beragam reaksi, dari nostalgia hingga kritik karena dianggap tidak fungsional.

Setelah hampir satu dekade absen, logo Apple yang menyala akhirnya kembali hadir di MacBook Pro generasi terbaru. Fitur ikonik yang pertama kali diperkenalkan pada 1999 dan sempat menghilang saat Apple mendesain ulang laptop pada 2016 itu kini hadir lagi, meski dengan mekanisme yang berbeda. Bagi sebagian penggemar Apple, ini adalah momen nostalgia; bagi yang lain, mungkin sekadar gangguan visual yang ingin segera dimatikan.
Logo menyala tersebut bukan sekadar lampu biasa. Menurut dokumen dukungan Apple yang dikutip 9to5Mac, logo di belakang layar akan menyala setiap kali perangkat dalam keadaan bangun. Tingkat kecerahannya menyesuaikan otomatis dengan kecerahan layar dan kondisi cahaya sekitar yang dideteksi sensor ambient. Ketika tutup laptop ditutup, logo tampak seperti logam poles biasa, sama seperti MacBook beberapa tahun terakhir. Jadi, kesan futuristik tetap ada saat perangkat digunakan.
Namun, tidak semua orang menyukai perubahan ini. Bagi yang lebih menyukai tampilan minimalis, Apple menyediakan opsi untuk mematikan illuminasi logo. Caranya cukup melalui Terminal, aplikasi yang bisa diakses dari folder Utilities atau lewat Spotlight. Perintah yang perlu diketik adalah sudo defaults write com.apple.CoreBrightness LEBacklightMode -int 0, lalu tekan return. Pengguna akan diminta memasukkan kata sandi administrator, dan setelah itu logo akan langsung mati. Untuk mengaktifkannya kembali, cukup ganti angka 0 menjadi 1 pada perintah yang sama, atau dengan menginstal ulang macOS.
Keputusan Apple menghidupkan kembali logo menyala bisa dibaca sebagai upaya merangkul warisan desainnya sekaligus merespons permintaan penggemar berat. Sejak dihilangkan, banyak pengguna yang merindukan sentuhan personal pada laptop mereka. Di sisi lain, langkah ini juga menunjukkan bahwa Apple masih peka terhadap detail estetika yang membedakannya dari kompetitor. Meski demikian, penyediaan opsi mematikan lewat Terminal—bukan melalui pengaturan sistem yang mudah diakses—mengindikasikan bahwa Apple ingin tetap mengontrol narasi, namun memberi keleluasaan bagi pengguna tingkat lanjut.
Reaksi publik pun beragam. Sebagian pengguna menyambut baik kembalinya logo menyala sebagai ciri khas yang membanggakan, sementara yang lain menganggapnya sebagai fitur yang tidak perlu dan cenderung mengganggu, terutama di lingkungan kerja yang minim cahaya. Terlepas dari pro-kontra, kehadiran fitur ini menandai babak baru dalam desain MacBook Pro yang kini juga dibekali layar PROLED XDR dan kemampuan sentuh—sesuatu yang dulu ditentang Steve Jobs.
Ke depan, menarik untuk melihat apakah Apple akan memperluas fitur ini ke lini MacBook lainnya, atau justru menjadikannya eksklusif untuk model Pro. Yang jelas, bagi pengguna yang menginginkan tampilan bersih tanpa logo menyala, kini ada jalan keluar—meski harus sedikit 'bermain' dengan Terminal. Apakah Anda termasuk yang merindukan logo menyala atau justru ingin mematikannya?



