Bitcoin Bertahan di $76.000 Usai Aksi Jual Dipicu Kekhawatiran AI, Pasar Menanti Data Tenaga Kerja AS
Baca dalam 60 detik
- Harga Bitcoin stabil di kisaran $76.150 setelah sempat turun ke $75.200, sementara Ether naik tipis 0.3% dan indeks memecoin melonjak 4%.
- Aksi jual dipicu kekhawatiran bahwa kendali Demokrat atas Kongres dapat memperlambat pembangunan pusat data AI, memicu likuidasi posisi leveraged senilai lebih dari $1 miliar.
- Investor kini mencermati laporan tenaga kerja AS yang diperkirakan menambah 65.000 lapangan kerja, yang bisa menentukan arah pasar kripto selanjutnya.

Bitcoin kembali menunjukkan ketahanan di level $76.000 pada Jumat pagi, sehari setelah badai aksi jual yang dipicu kekhawatiran sektor teknologi global. Harga mata uang kripto terbesar itu naik tipis 0,2% ke sekitar $76.150 sejak tengah malam UTC, setelah sempat merosot ke $75.200 pada Kamis malam. Ether juga menguat 0,3%, sementara indeks memecoin justru memimpin dengan kenaikan 4%, menandakan selera risiko yang belum sepenuhnya hilang.
Penurunan tajam pada Kamis berawal dari bursa saham AS: Nasdaq Composite anjlok 5,5% akibat kekhawatiran investor bahwa kemenangan Partai Demokrat di Kongres akan memperlambat pembangunan pusat data untuk kecerdasan buatan. Efeknya menjalar ke pasar kripto, di mana lebih dari $1 miliar posisi leveraged terlikuidasi dalam 24 jam, menurut data CoinGlass. Dalam periode yang sama, bitcoin melemah 5,3% dan ether 7,3%.
Tekanan juga terlihat dari arus keluar dana exchange-traded fund (ETF) kripto. Fidelity Wise Origin Bitcoin Fund (FBTC) kehilangan sekitar $200 juta pada Kamis, sedangkan iShares Bitcoin Trust (IBIT) milik BlackRock mencatat outflow $105 jutaโmemperpanjang rentetan penarikan selama lima sesi berturut-turut, seperti dilaporkan Farside Investors. Angka ini menggarisbawahi bahwa investor institusional masih berhati-hati di tengah ketidakpastian kebijakan.
Perhatian pasar kini beralih ke rilis data tenaga kerja AS yang dijadwalkan pukul 08.30 waktu Timur AS (13.30 UTC). Ekonom yang disurvei FactSet memperkirakan penambahan 65.000 lapangan kerja pada Oktober. Angka ini akan menjadi sinyal penting bagi Federal Reserve dalam menentukan arah suku bunga, yang selama ini menjadi faktor dominan bagi pergerakan aset berisiko termasuk kripto.
Di sisi lain, narasi seputar stablecoin berbasis aset dunia nyata (RWA) terus berkembang. Stablecoin terdiversifikasi yang didukung kredit riil menawarkan imbal hasil 5-7%, sementara pendanaan kripto konvensional terkompresi ke sekitar 4%. Regulasi GENIUS yang mendorong imbal hasil ke luar rantai (off-chain) diperkirakan akan memperluas total pasar yang dapat dialamatkan (TAM) menjadi $4 miliar dalam tiga tahun ke depan. Tren ini menunjukkan bahwa inovasi produk keuangan digital terus berjalan meski pasar spot sedang bergejolak.
Bagi investor Indonesia, dinamika ini patut dicermati. Meskipun pasar kripto domestik masih relatif kecil, korelasi dengan sentimen global semakin kuat seiring meningkatnya partisipasi ritel. Pelemahan bitcoin biasanya diikuti koreksi altcoin, yang dapat memengaruhi portofolio investor lokal. Selain itu, arus keluar ETF menjadi indikator penting tentang minat institusi asing yang dapat berdampak pada likuiditas pasar global.
Ke depan, apakah bitcoin mampu mempertahankan level $76.000 akan sangat bergantung pada data tenaga kerja dan ekspektasi kebijakan moneter. Jika data menunjukkan pasar kerja yang lebih kuat dari perkiraan, tekanan jual bisa kembali muncul. Sebaliknya, angka yang lembut dapat memberi ruang bagi aset berisiko untuk rebound. Pasar kripto tampaknya masih akan menari mengikuti irama makroekonomi AS.



