Norris Tercepat di FP1 Brasil, Verstappen Keluhkan RB22
Baca dalam 60 detik
- Lando Norris memimpin sesi latihan bebas pertama GP Brasil dengan catatan waktu 1 menit 11,717 detik, unggul tipis atas Kimi Antonelli.
- Max Verstappen mengeluhkan masalah downshift dan setir yang semakin sulit diputar, menandakan persoalan teknis pada RB22.
- Colton Herta menuntaskan sesi tanpa hambatan berarti dan diproyeksikan mengantongi poin terakhir untuk superlicence F1, membuka peluang promosi ke Cadillac pada 2027.

Lando Norris membuka rangkaian Grand Prix Brasil dengan sinyalemen kuat. Pembalap McLaren itu menorehkan waktu tercepat di sesi latihan bebas pertama (FP1) di Interlagos, Jumat (7/11/2025), dengan lap 1 menit 11,717 detik menggunakan ban lunak, sekaligus menegaskan persaingan papan atas yang kembali ketat.
Norris hanya unggul 0,082 detik atas Kimi Antonelli (Mercedes) yang menempati posisi kedua. Sementara Max Verstappen (Red Bull) dan Lewis Hamilton (Ferrari) masing-masing tertinggal dua dan tiga persepuluh detik di urutan ketiga dan keempat. Selisih antar empat tim teratas yang tipis mengindikasikan bahwa kualifikasi nanti akan berlangsung sengit, dan setiap detail teknis bisa menjadi penentu.
Namun, di balik catatan waktu tersebut, Verstappen menyuarakan ketidakpuasannya melalui radio tim. Ia mengeluhkan masalah perpindahan gigi turun (downshift) yang dinilainya tak bisa diterima, serta setir yang semakin sulit diputar. โAda yang salah dengan setir saya. Semakin lama semakin berat,โ ujarnya, seperti dikutip Motorsport.com. Keluhan ini bukan hal baru bagi RB22, dan jika tak segera diatasi, bisa mengganggu konsistensi juara bertahan tersebut sepanjang akhir pekan.
Sesi ini juga menjadi panggung bagi sejumlah pembalap muda. Rafael Camara, pemimpin klasemen Formula 2 yang akan membela Haas pada 2027, menjalani debut F1 di kandang sendiri lebih awal dari jadwal menyusul keretakan hubungan Esteban Ocon dengan tim. Camara harus puas di urutan ke-18, hampir sembilan persepuluh detik lebih lambat dari Bearman. Sementara itu, Gabriele Mini (Alpine) tampil impresif dengan menempati posisi ketujuh, mengungguli Franco Colapinto dengan selisih 0,085 detik. Prestasi Mini menjadi sorotan di antara para rookie yang turun di sesi ini.
Di sisi lain, Colton Herta dari Cadillac mencatatkan sesi yang relatif mulus meski sempat mengalami lock-up besar di Tikungan 1. Pembalap asal Amerika Serikat itu finis di posisi ke-20, terpaut 0,904 detik dari Valtteri Bottas. Meski demikian, penyelesaian sesi tanpa masalah berarti membuatnya secara teoritis mengantongi poin terakhir yang dibutuhkan untuk memperoleh superlicence FIA. Jika Cadillac memutuskan mempromosikannya pada 2027, Herta akan memenuhi syarat untuk membalap di F1.
Nasib kurang beruntung dialami Dino Beganovic (Ferrari) dan Freddie Slater (Audi). Keduanya terpuruk di dasar klasemen akibat masalah teknis yang membuat mereka tak bisa mencatatkan waktu dengan ban lunak. Slater bahkan sempat memicu bendera merah pada menit ke-12 sesi ketika mobilnya mati total. โMobil tiba-tiba mati,โ ujarnya. Beganovic hanya menyelesaikan 11 lap, sedangkan Slater tujuh lap.
โTidak bisa diterima, perpindahan gigi turun ini. Ada apa ini?โ โ Max Verstappen, via radio tim.
Bagi tim-tim papan atas, FP1 di Brasil menjadi ajang validasi paket teknis jelang sprint dan balapan utama. Persaingan yang ketat di empat besar menunjukkan bahwa pengembangan aerodinamis dan manajemen ban akan menjadi kunci. Sementara itu, bagi para pembalap muda, sesi ini adalah kesempatan emas menunjukkan kapasitas di hadapan bos tim. Herta, Camara, dan Mini telah memanfaatkan momen tersebut, meski dengan hasil yang beragam.
Pertanyaannya, akankah Verstappen mampu mengatasi masalah pada RB22 sebelum kualifikasi, atau justru Norris dan Antonelli yang akan mendominasi? Yang pasti, GP Brasil menyajikan dinamika menarik: bukan hanya soal kecepatan, tetapi juga ketahanan mesin dan kemampuan tim mengatasi kendala teknis di tengah tekanan.



