Mancini-Ranieri, Duet Baru Timnas Italia: Dari Kekacauan 17 Hari Menuju Pembenahan
Baca dalam 60 detik
- Roberto Mancini resmi kembali menukangi Italia, didampingi Claudio Ranieri sebagai direktur teknis, setelah FIGC melalui masa kritis 17 hari.
- Konflik UEFA-FIFA ikut mewarnai pengumuman, dengan presiden FIGC mengakui adanya 'barrier tak teratasi' antara dua badan sepak bola dunia.
- Mancini menjadikan laga Nations League kontra Belgia pada 25 September sebagai uji coba perdana, sambil menatap kualifikasi Piala Dunia.

FIGC akhirnya memastikan Roberto Mancini sebagai pelatih kepala tim nasional Italia dan Claudio Ranieri sebagai direktur teknis, menutup 17 hari penuh gejolak di federasi sepak bola Italia. Keputusan ini diumumkan langsung oleh Presiden FIGC Giovanni Malagò dalam konferensi pers di Roma, Selasa waktu setempat, setelah serangkaian kegagalan negosiasi dengan kandidat lain.
Kekacauan dimulai ketika Paolo Maldini dan penasihat khusus Leonardo mengundurkan diri dari posisi yang sempat dipercayakan kepada mereka. Upaya FIGC untuk mendatangkan Carlo Ancelotti dan Pep Guardiola gagal total, sementara blokade terhadap Andrea Pirlo karena keterkaitannya dengan iklan judi Rusia membuat situasi semakin rumit. Dalam situasi itulah Mancini, yang pernah menukangi Italia pada periode 2018-2023, dipanggil kembali.
“Saya menandatangani kontrak sambil berdiri, bersandar di dinding saat berjalan dari kantor,” ujar Malagò menggambarkan betapa mendesaknya proses rekrutmen ini. Ia menambahkan bahwa ia baru menghubungi Ranieri untuk pertama kalinya pada Senin malam, dan hanya berselang sehari sebelum konferensi pers. Duet Mancini-Ranieri diharapkan membawa stabilitas setelah periode yang disebut Malagò sebagai “yang paling kacau dalam karier saya.”
Dalam sesi tanya jawab, ancaman perpecahan antara UEFA dan FIFA turut mencuat. Malagò mengungkapkan bahwa ia dihubungi Sekretaris Jenderal UEFA untuk mengikuti panggilan video dengan liga-liga elite Eropa. “Saya sudah menerima serangkaian dokumen dari FIFA tentang proyek ini, yang jujur saja tidak biasa,” katanya. “Presiden Ceferin sangat menentangnya. Tidak diragukan lagi, situasi antara UEFA dan FIFA adalah konflik total. Kami di Eropa, kami bersama UEFA, tapi kami akan lihat posisi formal.”
Mancini sendiri enggan terjebak dalam pusaran politik. Ia lebih fokus pada pembenahan internal. Salah satu perhatian utamanya adalah regenerasi pemain dan biaya sekolah sepak bola. “Tidak mungkin keluarga harus membayar mahal untuk sekolah sepak bola. Tunjukkan semua dokumennya, saya akan lihat apa yang bisa saya lakukan. Saya ingin lebih banyak anak bermain sepak bola,” tegasnya. Ia juga menyoroti pentingnya memberi kesempatan bagi pemain muda Italia untuk bermain reguler, baik di Serie A maupun di liga asing.
Ranieri, yang pernah membawa Leicester City juara Premier League, menegaskan perannya sebagai pendukung. “Saya adalah pelatih sampai dua tahun lalu, jadi jika Roberto meminta saran, saya akan memberikannya. Jika tidak, saya akan tetap di tempat saya,” ujarnya dengan rendah hati. Ia juga mengingat masa-masa ketika Italia dianggap tim nomor tujuh atau delapan di Eropa saat ia dan Mancini memulai periode pertama. “Jika kami punya 30 kemenangan dan tujuh hasil imbang, dan Spanyol hanya memecahkan rekor tak terkalahkan kami, itu berarti kami melakukan sesuatu yang baik.”
Dukungan dari para pemain pun datang. Kiper Gianluigi Donnarumma mengirim pesan teks kepada Malagò yang berbunyi, “Presiden, terima kasih, ini persis seperti yang saya dan skuad inginkan.” Sementara itu, sorotan juga tertuju pada lini depan Italia. Mancini mengingat kontribusi Ciro Immobile dan menyebut Moise Kean sebagai pemain serbaguna. “Saya rasa kami tidak dalam keadaan buruk dengan striker yang kami miliki, termasuk para pemain sayap,” katanya.
Ke depannya, target jangka pendek adalah Nations League, yang dimulai melawan Belgia dan kemudian Turki. Namun, tujuan utamanya tetap kualifikasi Piala Dunia. “Jika Italia pergi ke Piala Dunia, kami akan menjadi tim yang harus diwaspadai. Meski tidak menjadi favorit, kami berbahaya di turnamen semacam itu,” ujar Mancini. Ia optimistis fondasi sepak bola menyerang sudah ada, dan ia ingin para pemainnya terus bermain positif. Pertanyaannya, dapatkah duet dua legenda ini mengembalikan kejayaan Italia yang sempat redup?



