FIFA Jual Saham Kompetisi Utama, AFC Kecewa Tak Dilibatkan
Baca dalam 60 detik
- FIFA mengumumkan rencana pembentukan anak usaha komersial untuk menjual saham minoritas turnamen, memicu kekecewaan AFC karena tidak diajak konsultasi.
- UEFA menolak keras langkah tersebut, menyebut Piala Dunia bukan aset yang bisa diperjualbelikan, sementara FA Inggris juga menyatakan keprihatinan.
- Langkah ini berpotensi mengubah lanskap investasi sepak bola global, termasuk dampak bagi federasi Asia yang mewakili 47 negara seperti Indonesia.

FIFA memicu gelombang protes setelah mengumumkan rencana pembentukan anak usaha komersial yang akan menjual saham minoritas turnamen utamanya, termasuk Piala Dunia. Langkah ini langsung mendapat kecaman dari Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) yang mengaku tidak dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis Rabu (29/7), AFC menyatakan kekecewaannya karena kebijakan sebesar itu diumumkan ke publik tanpa memberi kesempatan bagi anggota federasi untuk membahasnya melalui saluran tata kelola yang semestinya. AFC menegaskan bahwa inisiatif semacam itu harus didasarkan pada prinsip transparansi dan konsultasi yang bermakna.
Rencana FIFA, yang diumumkan sehari sebelumnya, mencakup pembentukan FIFA Forward Enterprise (FFE). Entitas ini akan mencari investor jangka panjang untuk membeli saham minoritas non-pengendali. FIFA berdalih tetap memegang kendali penuh atas FFE serta otoritas eksklusif dalam tata kelola sepak bola, kompetisi, kalender pertandingan, dan keputusan regulasi.
Namun, penolakan keras datang dari UEFA, induk sepak bola Eropa, yang menyatakan Piala Dunia bukanlah "aset untuk diperdagangkan". Federasi Sepak Bola Inggris (FA) juga menyuarakan keprihatinan serius. Di tengah kontroversi ini, laporan media Inggris mengaitkan rencana tersebut dengan keluarga dekat Presiden AS Donald Trump, meskipun FIFA belum mengonfirmasi hal itu.
Bagi Indonesia, langkah FIFA ini patut dicermati. Sebagai anggota AFC, PSSI berpotensi terdampak jika kebijakan ini mengubah aliran pendapatan dari turnamen internasional. Apalagi, Indonesia tengah giat membenahi sepak bola domestik pasca-tragedi Kanjuruhan. Keterbukaan dan konsultasi menjadi krusial agar kepentingan negara berkembang tidak terpinggirkan dalam arus investasi global.
Para analis menilai langkah FIFA ini merupakan upaya mencari sumber pendanaan baru di tengah meningkatnya biaya penyelenggaraan turnamen. Namun, kritik muncul karena dianggap mengabaikan prinsip tata kelola yang baik. AFC sendiri menegaskan bahwa semua pemangku kepentingan harus diberi informasi dan waktu yang cukup untuk mengevaluasi proposal secara menyeluruh.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah FIFA akan membuka ruang dialog dengan federasi regional sebelum merealisasikan rencana ini. Atau, justru akan memicu perpecahan lebih lanjut dalam dunia sepak bola global?



