Ranieri: Italia Harus Kembali Jatuh Cinta pada Sepak Bola, Fokus pada Teknik Individu
Baca dalam 60 detik
- Claudio Ranieri ditunjuk sebagai presiden dan direktur teknis Club Italia, menggantikan Paolo Maldini yang mundur karena perbedaan pandangan soal pelatih.
- Ranieri menyoroti mahalnya biaya sekolah sepak bola di Italia dan kurangnya pengembangan teknik individu, yang membuat generasi muda kehilangan minat.
- Ia menekankan reformasi akademi selama 10 tahun ke depan, dengan fokus pada penguasaan bola dan dribbling, bukan hanya taktik tim.

Claudio Ranieri, pelatih legendaris yang pernah membawa Leicester City juara Premier League, kembali ke panggung sepak bola Italia dengan misi besar: membangkitkan kembali kecintaan terhadap olahraga ini di kalangan generasi muda. Dalam konferensi pers bersama Roberto Mancini yang kembali menjabat sebagai komisaris teknik tim nasional, Ranieri mengungkapkan bahwa sepak bola Italia harus berbenah dari akar rumput, terutama dalam hal pengembangan teknik individu pemain.
Ranieri, yang kini menjabat sebagai presiden dan direktur teknis Club Italia, mengakui bahwa tantangan yang dihadapi sangat berat. Ia menyoroti dua hal utama: pertama, mengembalikan minat publik terhadap sepak bola; kedua, memastikan anak-anak seusia cucunya yang berusia 12 tahun bisa menyaksikan Italia berlaga di Piala Dunia—sesuatu yang belum pernah terjadi seumur hidup mereka. “Saya tahu situasinya sulit, tetapi karier saya sebagai pelatih berbicara banyak tentang menghadapi kesulitan. Saya tidak pernah mundur,” ujarnya.
Salah satu masalah krusial yang diidentifikasi Ranieri adalah mahalnya biaya sekolah sepak bola. Saat berada di Cagliari, ia mendengar banyak keluarga tidak mampu membiayai anak-anak mereka untuk berlatih. “Itu tidak boleh terjadi. Di dunia yang penuh dengan pilihan hiburan dan olahraga lain, kita harus membuat anak-anak kembali jatuh cinta pada sepak bola,” tegasnya. Ranieri juga menyoroti ironi di level junior: Italia sering menjuarai turnamen usia muda berkat keunggulan taktik tim, tetapi gagal melahirkan pemain-pemain top di level senior. “Kami menang di Euro junior karena taktik kami bagus, tetapi di luar negeri, taktik tim tidak terlalu dieksploitasi. Kami harus mengembangkan teknik individu di akademi—cara mengontrol bola, bergerak, menyilang, dan menembak,” tambahnya.
Ranieri mengkritik pendekatan pelatih di Italia yang terlalu menekankan kemenangan instan. “Pelatih bilang mereka tidak punya waktu untuk mengajar teknik karena harus menang. Itu cara yang salah. Anda tidak bisa mengajari anak-anak tenis dengan langsung melemparkan mereka ke pertandingan,” ujarnya. Ia membandingkan dengan masa lalu ketika jumlah akademi lebih sedikit, tetapi anak-anak memiliki ruang bermain di alun-alun untuk berlama-lama menggiring bola. “Sekarang mereka hanya disuruh dua sentuhan, oper cepat, tidak diajari menggiring bola,” keluhnya.
Penunjukan Ranieri sempat diragukan karena usianya yang 74 tahun dan reputasinya yang dianggap kurang modern. Namun, ia menegaskan bahwa rencana 10 tahun yang digagas pendahulunya, Paolo Maldini, harus dilanjutkan. “Ketika Maldini bicara 10 tahun, saya yakin dia bermaksud bekerja dengan anak-anak usia 10-14 tahun. Merekalah yang perlu dibantu untuk menjadi hebat. Perbedaan antara kami dan negara lain adalah kami unggul secara taktik tim, tetapi mereka unggul secara teknik individu,” kata Ranieri. Ia juga mengakui bahwa pengalaman singkatnya sebagai penasihat khusus di Roma musim lalu, meski berakhir dengan pemecatan, menjadi pelajaran berharga. “Itu tahun yang menarik, memberi saya banyak hal yang tidak biasa saya alami,” pungkasnya.
Bagi Indonesia, tantangan serupa juga terlihat: mahalnya biaya sekolah sepak bola, minimnya ruang bermain, dan orientasi pada hasil instan kerap menghambat lahirnya pemain-pemain kreatif. Reformasi akademi ala Ranieri bisa menjadi pelajaran berharga, terutama dalam menyeimbangkan antara taktik tim dan pengembangan teknik individu. Pertanyaannya, mampukah Indonesia—dan Italia—beralih dari budaya “menang sekarang” ke investasi jangka panjang yang lebih berkelanjutan?



