Wimbledon Catat Rekor Penonton di Tengah Gempuran Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Kejuaraan tenis Wimbledon 2025 menarik 550.151 pengunjung, rekor tertinggi sepanjang sejarah.
- Cuaca cerah dan penampilan mengejutkan petenis Inggris Arthur Fery menjadi faktor utama di balik lonjakan jumlah penonton.
- Final tunggal putri yang mempertemukan dua petenis Ceko sukses mendulang rating tinggi di negara asal mereka.

Wimbledon berhasil membukukan rekor jumlah penonton sepanjang sejarah pada edisi 2025, meskipun harus bersaing langsung dengan gelaran Piala Dunia sepak bola. All England Club, Rabu (29/7), mengumumkan bahwa sebanyak 550.151 penggemar memadati area turnamen selama dua pekan, naik tipis dibandingkan tahun sebelumnya.
Angka tersebut menunjukkan daya tarik Wimbledon yang tetap kuat di tengah kalender olahraga global yang padat. Menurut penyelenggara, rekor harian tercatat pada tiga hari berbeda selama turnamen berlangsung. Salah satu pendorong utama adalah cuaca cerah yang menyelimuti London sepanjang turnamen—untuk pertama kalinya sejak 2019 tanpa gangguan hujan.
Faktor lain yang disebut-sebut berkontribusi adalah penampilan mengejutkan petenis muda Inggris, Arthur Fery, yang berhasil melaju hingga babak semifinal. Kejutan dari pemain wildcard ini dinilai mampu mengalihkan perhatian publik yang mungkin beralih ke siaran Piala Dunia. Fery menjadi magnet tersendiri bagi penggemar tuan rumah yang antusias menyaksikan langsung aksinya di lapangan rumput Wimbledon.
Dari sisi komersial, Wimbledon juga mencatatkan angka fantastis. Sebanyak 117.995 topi khas Wimbledon terjual selama turnamen, memecahkan rekor sebelumnya. Angka ini menunjukkan bahwa daya beli penggemar terhadap merchandise resmi tetap tinggi. Sementara itu, stasiun televisi ESPN melaporkan bahwa siaran Wimbledon 2025 menjadi edisi kedua paling banyak ditonton sepanjang sejarah mereka.
Final tunggal putri yang mempertemukan Linda Noskova melawan Karolina Muchova—keduanya dari Ceko—menjadi tontonan yang sangat populer di negara asal mereka. Eurosport yang memegang hak siar untuk kawasan Eropa menjalin kerja sama sublisensi dengan stasiun televisi gratis Prima. Hasilnya, pertandingan tersebut meraih pangsa pemirsa 38,5% dengan puncak 900.000 penonton. Angka ini membuktikan bahwa tenis putri masih memiliki basis penggemar yang kuat di Eropa Tengah.
Bagi Indonesia, capaian Wimbledon ini memberikan gambaran bahwa turnamen tenis bergengsi tetap mampu bertahan di tengah kompetisi dengan ajang olahraga global lainnya. Meski tenis belum sepopuler sepak bola atau bulu tangkis di Tanah Air, kesuksesan Wimbledon menunjukkan pentingnya inovasi dalam penyelenggaraan—seperti mengelola cuaca dan memanfaatkan pemain lokal sebagai daya tarik. Federasi Tenis Indonesia (Pelti) bisa memetik pelajaran dari strategi All England Club dalam membangun narasi yang membuat penonton tetap setia.
Ke depan, tantangan Wimbledon adalah mempertahankan momentum ini. Dengan jadwal Piala Dunia yang terus bergulir setiap empat tahun, serta munculnya turnamen tenis lain yang kian kompetitif, All England Club perlu terus mencari cara untuk menjaga relevansi. Pertanyaan besarnya: mampukah Wimbledon mempertahankan rekor ini tanpa kejutan pemain lokal seperti Arthur Fery?



