Mancini dan Ranieri Resmi Tangani Italia: Misi Bangkit dari Tiga Kegagalan Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- FIGC menunjuk Roberto Mancini sebagai pelatih dan Claudio Ranieri sebagai direktur teknis untuk membangkitkan kembali timnas Italia setelah absen tiga Piala Dunia berturut-turut.
- Duo legendaris ini mendapat mandat untuk mereformasi pembinaan usia muda dan meningkatkan jumlah pemain lokal di Serie A yang kini didominasi pemain asing.
- Laga perdana Mancini adalah menghadapi Belgia di Nations League pada 25 September, diikuti laga uji coba melawan Turki.

Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) resmi menunjuk Roberto Mancini sebagai pelatih kepala dan Claudio Ranieri sebagai direktur teknis, dalam upaya memulihkan kejayaan Azzurri yang telah absen dari tiga edisi Piala Dunia berturut-turut. Pengumuman ini disampaikan Presiden FIGC Giovanni Malagò dalam konferensi pers di Roma, Kamis (18/8) waktu setempat, setelah melalui 17 hari penuh gejolak di sepak bola Italia.
Penunjukan Mancini dan Ranieri mengakhiri kekacauan yang dimulai ketika Paolo Maldini dan penasihat khusus Leonardo sempat diberi mandat, namun gagal setelah upaya mendatangkan Carlo Ancelotti dan Pep Guardiola mentok, serta blokade terhadap Andrea Pirlo terkait iklan judi Rusia. Keduanya akhirnya mengundurkan diri, membuka jalan bagi kembalinya Mancini—yang pernah menukangi Italia pada 2018-2023—dan Ranieri, pelatih kawakan yang membawa Leicester City juara Premier League.
Mancini, yang masih dikenang karena membawa Italia juara Euro 2020, mengakui kesalahannya di masa lalu. "Apa yang terjadi tiga tahun lalu adalah kurangnya komunikasi antara saya dan Presiden Gravina. Jika kami berbicara langsung, segalanya mungkin berbeda," ujarnya. Ia bertekad membawa kembali Nazionale ke tempat semestinya. "Seperti kehilangan cinta dalam hidup, Anda pasti melakukan kesalahan. Tak peduli seberapa baik sebelumnya, jelas ada yang salah."
Ranieri, yang mengaku mendapat panggilan saat sedang berlibur di pantai, menekankan dua prioritas: mengembalikan kecintaan publik terhadap sepak bola dan memastikan anak-anak seperti cucunya yang berusia 12 tahun bisa menyaksikan Italia di Piala Dunia. "Saya di Cagliari mendengar anak-anak harus mengeluarkan banyak uang untuk sekolah sepak bola. Itu tidak boleh terjadi," katanya. Ia juga menyoroti masalah struktural: Italia terlalu mengandalkan taktik tim, namun mengabaikan pengembangan individu seperti kontrol bola, gerakan, dan penyelesaian akhir.
Malagò mengakui tekanan besar akibat tiga kegagalan beruntun. "Seorang teman mengatakan sudah 20 tahun sejak kami memainkan laga knockout di Piala Dunia, yaitu final 2006. Itu membuat kami merenung," ujarnya. Ia berharap dalam pekan ini bisa menambahkan satu figur lagi untuk melengkapi struktur federasi dengan peran khusus Club Italia.
Bagi Indonesia, kisah Italia menjadi pengingat pentingnya pembinaan usia muda dan keseimbangan antara pemain lokal dan asing. Dominasi pemain asing di Serie A—seperti yang dikeluhkan Ranieri—juga relevan dengan Liga Indonesia yang kerap dihuni pemain asing di berbagai posisi. Reformasi yang dirancang Mancini dan Ranieri bisa menjadi studi kasus tentang bagaimana federasi membangun kembali fondasi sepak bola dari akar rumput.
Pertanyaan besarnya: mampukah duet legendaris ini mengulang keajaiban seperti yang dilakukan Mancini di Euro 2020, atau akankah Italia kembali terpuruk di bawah tekanan ekspektasi yang begitu tinggi?



