FIFA Buka Keran Investasi Swasta untuk Piala Dunia, Perang Sengit dengan UEFA Tak Terhindarkan
Baca dalam 60 detik
- Sepuluh perempuan mengungkap pengalaman mereka dengan Jared Leto dalam dokumenter BBC, dengan empat di antaranya mengaku masih di bawah umur saat kejadian.
- Salah satu korban menolak menandatangani NDA yang dikirimkan Leto, sementara tim dokumenter memverifikasi klaim melalui saksi dan bukti digital.
- Lebih dari 120 tuduhan daring telah muncul terkait perilaku aktor tersebut, yang hingga kini belum memberikan tanggapan resmi.

FIFA membuka babak baru dalam perseteruan panjangnya dengan Eropa setelah mengumumkan rencana membentuk anak usaha senilai US$20 miliar yang akan mengelola Piala Dunia dan event-event lainnya. Langkah ini memungkinkan investor swasta memiliki saham hingga 20%—sebuah terobosan yang langsung memicu reaksi keras dari UEFA, yang menilai langkah itu sama dengan menjual "jiwa" sepak bola.
Presiden FIFA Gianni Infantino, yang akan kembali mencalonkan diri tahun depan, membingkai inisiatif ini sebagai gerakan demokratisasi global. Dengan dana segar tersebut, setiap asosiasi anggota berpotensi menerima US$20 juta untuk proyek khusus di awal, ditambah hibah serupa setiap siklus empat tahun. Bagi negara-negara berkembang yang selama ini mengandalkan FIFA sebagai sumber pemasukan utama, tawaran itu jelas menggiurkan.
FIFA saat ini sudah mengantongi pendapatan miliaran dolar dari hak siar, sponsor, dan kemitraan komersial. Untuk siklus empat tahun yang berakhir setelah Piala Dunia 2022, FIFA membidik pendapatan US$13 miliar. Namun angka tersebut jauh panggang dari api jika dibandingkan dengan pundi-pundi sepak bola Eropa. UEFA melaporkan kompetisi klub elitnya menghasilkan €4,4 miliar pada musim 2024/25 saja. Secara total, kompetisi di benua biru membukukan lebih dari €40 miliar pada periode yang sama—dengan lima liga top (Premier League, Bundesliga, LaLiga, Serie A, dan Ligue 1) menyumbang lebih dari separuhnya, menurut laporan Deloitte.
Ketimpangan pendapatan ini bukan hal baru. Sejak era João Havelange, FIFA terus berupaya menggeser pusat gravitasi finansial sepak bola dari Eropa. Mantan presiden itu berhasil memperbesar Piala Dunia dan memberi pengaruh lebih besar kepada Afrika, Asia, dan Amerika Latin melalui koalisi politik negara-negara kecil. Infantino melanjutkan warisan itu dengan menambah jumlah peserta Piala Dunia 2026 menjadi 48 tim—dari sebelumnya 32—dan bahkan menggulirkan wacana turnamen 64 tim pada edisi seratus tahun 2030, usulan yang langsung disambut dingin oleh presiden La Liga Javier Tebas. “FIFA sedang menghancurkan sepak bola,” ujar Tebas dalam wawancara dengan La Gazzetta dello Sport.
Infantino bukannya tanpa pengalaman pahit dalam upaya komersialisasi. Pada 2018, rencana memperluas Piala Dunia Antarklub dengan konsorsium SoftBank kandas setelah UEFA memberikan perlawanan sengit. Namun, kali ini ia mengandalkan dukungan mayoritas dari 211 asosiasi anggota FIFA—mayoritas berasal dari luar Eropa. “Jika Anda negara dari belahan selatan global, yang kompetisi sepak bolanya tidak menghasilkan aliran emas seperti kompetisi Eropa, tawaran ini pasti sangat menarik,” kata Eric Windholz, profesor madya dari Fakultas Hukum Monash University, kepada Reuters.
CONCACAF, badan sepak bola regional Amerika Utara, Tengah, dan Karibia, menyatakan kekecewaan atas kurangnya proses due diligence namun tidak secara tegas menolak rencana tersebut. Sementara itu, Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) yang menaungi 47 asosiasi—termasuk Indonesia—mengaku tidak mengetahui rencana itu hingga pengumuman resmi FIFA. Minimnya konsultasi ini menimbulkan pertanyaan mengenai transparansi dan tata kelola di balik keputusan fundamental bagi masa depan sepak bola dunia.
Rencana investasi swasta ini akan menjadi ujian bagi Infantino untuk membuktikan bahwa ia mampu mengelola kepentingan global tanpa terjebak dalam pusaran konflik dengan Eropa. Akankah negara-negara berkembang bersatu mendukung langkah ini dan mengubah lanskap kekuasaan sepak bola selamanya? Atau justru gelombang penolakan dari UEFA dan liga-liga top Eropa akan kembali menggagalkan ambisi komersialisasi FIFA? Jawabannya akan menentukan arah bisnis olahraga paling populer di dunia dalam satu dekade ke depan.



