Apple Pilih Tahan Harga iPhone, Raup Pertumbuhan Penjualan Terkuat dalam 5 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Apple mempertahankan harga iPhone di tengah kenaikan biaya komponen, mendorong kenaikan pangsa pasar global hingga 20% pada kuartal April-Juni.
- Keputusan itu menguntungkan Apple di saat pesaing terpaksa menaikkan harga dan permintaan global ponsel pintar merosot ke titik terendah dalam 13 tahun.
- Investor menanti apakah Apple akan menaikkan harga iPhone 16 September nanti, yang berpotensi menguji elastisitas permintaan pelanggan setianya.

Di tengah tekanan biaya produksi yang melonjak akibat kelangkaan chip memori dan penyimpanan, Apple justru memilih tidak menaikkan harga jual iPhone. Strategi itu membuahkan hasil: pada kuartal kedua tahun ini, perusahaan teknologi asal Cupertino itu mencatat pertumbuhan penjualan tertinggi dalam lima tahun terakhir, sekaligus merebut kembali posisinya sebagai perusahaan paling bernilai di dunia dari Nvidia.
Laporan keuangan yang akan dirilis dalam waktu dekat diperkirakan menunjukkan pendapatan Apple pada periode April-Juni mencapai 108,65 miliar dolar AS, naik 15,5 persen dibanding tahun lalu. Menurut data yang dihimpun LSEG, angka ini menjadi yang tertinggi sejak 2021. Pertumbuhan laba bersih juga diproyeksikan mencapai 18,1 persen, meski margin kotor sedikit turun menjadi 47,9 persen dari 49,3 persen pada kuartal sebelumnya.
Keberhasilan ini tak lepas dari keputusan Apple untuk mengorbankan kenaikan harga iPad dan MacBook sebagai kompensasi kenaikan biaya komponen, sementara iPhone—produk andalan yang menyumbang lebih dari separuh pendapatan—tetap dibiarkan stabil. Langkah itu berbanding terbalik dengan mayoritas pesaing yang terpaksa menaikkan harga, sehingga menurut firma riset Counterpoint, pangsa pasar iPhone justru naik menjadi hampir seperlima dari total pasar global, dengan pengiriman tumbuh 3 persen di tengah lesunya permintaan ponsel pintar secara global.
Pertanyaan besar yang kini mengemuka: berapa lama Apple bisa bertahan tanpa menaikkan harga iPhone? Dan Morgan, manajer portofolio di Synovus Trust yang memegang saham Apple, memperkirakan perusahaan akan menaikkan harga pada semester kedua tahun ini—tepatnya saat peluncuran seri iPhone 16 yang biasanya digelar September. “Apple pada awalnya dicibir karena tidak ikut serta dalam gelombang investasi AI. Kini justru dihargai karena investor mulai mempertanyakan hubungan antara belanja besar-besaran perusahaan teknologi dan imbal hasilnya,” ujarnya.
Kekhawatiran Morgan beralasan. Pekan lalu, Alphabet mengejutkan pasar dengan mencatatkan arus kas bebas negatif untuk pertama kalinya. Sementara itu, valuasi saham Apple yang sudah tinggi—naik hampir 25 persen sepanjang tahun ini— membuat ruang untuk kesalahan menjadi tipis. Jika harga iPhone dinaikkan, ada risiko permintaan melambat, apalagi jika konsumen mulai sensitif terhadap harga.
Namun, analis Morgan Stanley menilai permintaan terhadap produk Apple cenderung inelastis, terutama untuk iPhone. “Kenaikan harga baru-baru ini tidak akan mengganggu permintaan secara signifikan, terutama mengingat tantangan pasokan yang dihadapi pesaing,” tulis mereka dalam riset. IPhone dinilai sebagai produk paling inelastis di ekosistem Apple, diikuti oleh Mac dan iPad. Data menunjukkan penjualan iPhone pada kuartal ini kemungkinan meningkat 20,8 persen—juga yang tertinggi sejak 2021—sementara penjualan Mac tumbuh 8,7 persen meski harganya naik.
Di Indonesia, strategi harga Apple patut dicermati. Pangsa pasar smartphone premium di Tanah Air masih didominasi oleh Samsung dan beberapa merek China, namun iPhone tetap menjadi idola di segmen kelas atas. Jika Apple akhirnya menaikkan harga iPhone 16, konsumen Indonesia mungkin akan beralih ke produk bekas atau menunda pembelian. Di sisi lain, ketidakpastian nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bisa menjadi faktor pemberat tambahan—sebab kenaikan harga iPhone di Indonesia sering kali lebih tajam dari kenaikan harga global akibat fluktuasi kurs dan bea masuk.
Apple juga telah menaikkan harga langganan Apple Music dan Apple One di beberapa negara awal bulan ini. Langkah itu menandakan bahwa perusahaan mulai menggeser beban kenaikan biaya ke layanan, bukan ke perangkat keras. Ini bisa menjadi strategi jangka panjang untuk mempertahankan margin tanpa mengorbankan volume penjualan iPhone.
Pertanyaan yang tersisa: akankah Apple tetap mempertahankan strategi ini sampai akhir tahun, atau justru akan mengikuti jejak pesaing dan menaikkan harga iPhone 16? Jawabannya mungkin akan diketahui saat laporan keuangan kuartal berikutnya dirilis—dan akan menjadi sinyal penting bagi pasar, termasuk konsumen di Indonesia yang menanti harga ponsel idaman mereka.



