Minyak Mentah Melonjak setelah Serangan Militer AS-Arab Saudi ke Kelompok Pro-Iran
Baca dalam 60 detik
- Harga minyak Brent dan WTI melonjak lebih dari 3% setelah serangan udara gabungan AS-Arab Saudi menargetkan fasilitas kelompok bersenjata pro-Iran di Irak.
- Ketegangan di Selat Hormuz kembali memanas setelah Iran menolak usulan Oman yang memberikan kendali parsial atas jalur pelayaran, meningkatkan risiko gangguan pasokan global.
- Kenaikan harga terjadi di tengah data stok minyak AS yang lebih tinggi dari perkiraan, menandakan tekanan permintaan masih belum pulih sepenuhnya.

Harga minyak mentah dunia kembali meroket pada Rabu (28/7) setelah Amerika Serikat dan Arab Saudi melancarkan serangan militer bersama terhadap kelompok-kelompok yang didukung Iran di Irak. Aksi ini memicu kekhawatiran baru akan terganggunya pasokan energi dari kawasan Timur Tengah yang selama ini menjadi pusat produksi minyak global.
Brent crude untuk pengiriman Oktober tercatat naik 3,12 persen menjadi 84,64 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) untuk September melesat 3,57 persen ke posisi 82,09 dolar AS. Lonjakan ini membalikkan tren penurunan sehari sebelumnya ketika kedua negara sempat menghentikan saling serang.
Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa jet tempur AS dan Saudi menyerang sejumlah gudang logistik dan persenjataan di Irak timur. Serangan itu merupakan respons atas lebih dari 30 serangan drone yang diarahkan oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dalam 72 jam terakhir terhadap pasukan AS dan infrastruktur energi Saudi. โSerangan yang tidak beralasan terhadap pasukan AS tidak berhasil,โ demikian pernyataan CENTCOM.
Kementerian Pertahanan Saudi menambahkan bahwa operasi ini merupakan balasan atas serangan dari wilayah Irak yang menyasar fasilitas minyak di kerajaan. Langkah militer ini menandai eskalasi signifikan dalam konflik proksi yang melibatkan Iran di kawasan.
Diplomasi energi juga mengalami kemunduran. Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menyatakan bahwa proposal akhir Teheran kepada Oman untuk membuka kembali Selat Hormuz hanya memberikan satu jalur pelayaran dan sebagian jalur kedua di bawah kendali penuh Iran. Oman sebelumnya mengusulkan rute sementara yang membagi kendali secara merata, namun Iran menolak. Selat Hormuz merupakan titik transit sekitar 20 persen minyak dunia, sehingga setiap gangguan di sana berpotensi mengguncang pasar global.
Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak ini menjadi tekanan tambahan di tengah upaya pemerintah menjaga stabilitas harga energi domestik. Sebagai negara pengimpor minyak netto, setiap kenaikan harga minyak dunia berdampak langsung pada beban subsidi energi dan anggaran negara. Jika ketegangan berlanjut, bukan tidak mungkin harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri harus disesuaikan, meskipun pemerintah berusaha menahan gejolak melalui kompensasi.
Dari sisi permintaan, American Petroleum Institute (API) melaporkan bahwa stok minyak mentah AS justru meningkat 3,29 juta barel pekan lalu, bertolak belakang dengan ekspektasi penurunan 2,5 juta barel. Data ini mengindikasikan bahwa permintaan di konsumen terbesar dunia belum pulih sepenuhnya, sehingga kenaikan harga saat ini lebih didorong oleh faktor geopolitik ketimbang fundamental pasar.
Pasar kini menanti data resmi dari Energy Information Administration (EIA) yang dijadwalkan rilis Rabu malam waktu AS. Angka tersebut akan menjadi indikator penting apakah tekanan pasokan benar-benar menguat atau hanya sentimen sementara. Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: akankah eskalasi militer ini mendorong Iran dan sekutunya untuk meningkatkan serangan, atau justru membuka jalan menuju negosiasi baru? Jawabannya akan menentukan arah harga minyak dalam beberapa pekan ke depan.



