75 Tahun 'Pembebasan Damai' Tibet: Jurnalis Asing Dapat Akses Terbatas di Tengah Kontroversi
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Rwanda menetapkan batas akhir penghentian layanan 3G pada 30 Juni 2027, disusul 2G, untuk mempercepat transformasi digital.
- Langkah ini memungkinkan operator telekomunikasi memfokuskan investasi pada perluasan 4G dan persiapan 5G, meningkatkan kualitas layanan.
- Bisnis dan institusi publik di Rwanda diminta segera migrasi perangkat agar tidak terganggu, sementara uji coba penghentian dimulai tahun ini.

Associated Press (AP) menjadi salah satu media asing yang mendapat kesempatan meliput Tibet pada momen peringatan 75 tahun peristiwa yang oleh pemerintah China disebut sebagai 'pembebasan damai'—namun oleh para kritikus dinilai sebagai invasi yang membatasi hak dan budaya warga Tibet. Akses yang diberikan sangat terkontrol: jurnalis didampingi aparat dan hanya diizinkan mengunjungi tempat-tempat yang telah ditentukan sebelumnya.
Kunjungan selama seminggu itu membawa rombongan media ke sejumlah lokasi ikonik seperti Istana Potala, Kuil Jokhang, Danau Yamdrok yang berada di ketinggian 4.441 meter, serta Istana Yumbulagang—yang disebut sebagai istana pertama Tibet dan kemudian beralih fungsi menjadi biara. Tak hanya itu, mereka juga diajak melihat panti jompo, pusat kerajinan lokal, dan berbagai tempat wisata lainnya. Sepanjang perjalanan, pejabat pemerintah mendampingi dan mengawasi setiap aktivitas jurnalistik, memastikan tidak ada liputan independen di luar rute yang sudah dirancang.
Meski demikian, redaksi AP menegaskan tetap memegang kendali penuh atas konten yang dipublikasikan. "Kami memiliki kendali editorial penuh," tulis AP dalam laporannya. Namun diakuinya, kebebasan bergerak dan melakukan investigasi mandiri sangat dibatasi. Hal ini menjadi potret khas akses terbatas yang selama ini dikeluhkan oleh banyak organisasi jurnalis asing ke Tibet, sebuah kawasan yang oleh Beijing disebut sebagai Daerah Otonomi Tibet.
"Pemerintah China sangat selektif dalam memberikan izin kepada jurnalis asing untuk masuk ke Tibet. Kunjungan ini adalah salah satu dari sedikit kesempatan, dan selalu dalam kerangka yang ketat," demikian pernyataan resmi AP yang menyertai laporan foto dan artikel mereka.
Peringatan tahun ini kembali memunculkan perdebatan panas antara pemerintah China dan pihak-pihak yang mengecam pelanggaran hak asasi manusia di Tibet. Pemerintah China bersikeras bahwa sejak 75 tahun lalu, Tibet telah mengalami pembangunan ekonomi dan sosial yang pesat, serta kerukunan antaretnis yang semakin kuat. Namun, para pengamat hak asasi internasional mencatat sebaliknya: praktik pengawasan ketat, pembatasan kebebasan beragama, dan tekanan terhadap budaya Tibet masih terjadi.
Bagi Indonesia, perkembangan di Tibet menjadi salah satu cerminan bagaimana Beijing mengelola wilayah yang diklaimnya di kawasan Asia Tengah. Meski Indonesia tidak memiliki konflik teritorial langsung dengan China di daerah tersebut, kebijakan Beijing di Tibet kerap menjadi sorotan dalam forum multinasional seperti PBB. Beberapa kalangan aktivis hak asasi di Indonesia juga kerap menyuarakan solidaritas terhadap warga Tibet, meskipun hubungan diplomatik Indonesia-China tetap berjalan baik.
Ke depan, pertanyaan besar tetap menggantung: akankah China membuka lebih banyak akses bagi jurnalis dan pengamat independen di masa mendatang? Ataukah tur terbatas seperti ini hanyalah strategi pengelolaan citra di tahun-tahun jelang peringatan besar berikutnya?



