Janji Terpatuhi: Bek Spanyol Marc Cucurella Tato Wajah Pelatih Luis de la Fuente
Baca dalam 60 detik
- Marc Cucurella menepati janji dengan menato wajah Luis de la Fuente setelah Spanyol menjuarai Piala Dunia.
- Tato tersebut menggambarkan De la Fuente mengangkat trofi dengan angka 26, nomor punggung Cucurella.
- Sikap ini mencerminkan pengabdian pemain kepada pelatih, fenomena yang juga menarik perhatian publik sepak bola Indonesia.

Marc Cucurella, bek kiri timnas Spanyol, akhirnya merealisasikan janjinya: membuat tato potret pelatih Luis de la Fuente. Tindakan ini muncul setelah La Roja menaklukkan Argentina 1-0 di final Piala Dunia, sebuah gelar yang diraih bulan ini.
Cucurella, yang pada Juni lalu pindah dari Chelsea ke Real Madrid dengan nilai transfer £52 juta, mengunggah foto dan video proses pembuatan tato di akun media sosialnya. Gambar tersebut memperlihatkan De la Fuente tengah mengangkat trofi Piala Dunia dengan latar angka 26—nomor punggung Cucurella. "Janji terpenuhi," tulisnya.
Seusai final, De la Fuente sudah menduga Cucurella akan menepati kata-katanya. "Saya sudah bilang kepada mereka, 'apakah kalian membuat kesalahan?'" canda pelatih berusia 64 tahun itu dalam konferensi pers seusai laga. "Mereka memang salah, tapi mereka akan menikmatinya. Saya tidak sejelek itu sampai mereka harus meletakkannya di tempat yang tak bisa dilihat siapa pun. Tapi ini membuat saya tertawa dan bangga karena mereka menepati janji."
Di luar momen tato, Cucurella dikenal dengan ritual uniknya. Selama Piala Dunia, ia membawa piyama istrinya sebagai jimat keberuntungan. Rambut panjangnya yang keriting juga sengaja dipertahankan agar anaknya mudah mengenalinya saat bertanding. Perilaku ini menambah sisi personal pemain yang jarang terlihat di lapangan.
Fenomena tato pelatih di tubuh pemain sepak bola bukanlah hal baru. Di Indonesia, beberapa pemain seperti Andik Vermansyah dan Irfan Bachdim juga memiliki tato, meskipun masih ada sisi kontroversial terkait norma budaya. Namun, gesture Cucurella ini lebih pada bentuk loyalitas ekstrem terhadap pelatih yang sukses membawa tim ke puncak dunia. Bagi penggemar sepak bola Tanah Air, kisah ini bisa menjadi cerminan hubungan pemain-pelatih yang ideal: saling percaya dan menghormati, bahkan hingga diabadikan dalam tinta permanen.
Komitmen seperti ini jarang terlihat di level tertinggi, terutama ketika pemain pindah klub besar dengan nilai fantastis. Cucurella, yang baru setengah musim berseragam Madrid, justru menunjukkan bahwa ikatan emosional dengan pelatih nasional tetap kuat. Pertanyaannya, akankah tren serupa muncul di skuad Garuda? Atau mungkinkah ada pemain Indonesia yang rela menato wajah pelatih Shin Tae-yong jika berhasil membawa tim ke Piala Dunia? Hanya waktu yang akan menjawab, tapi yang jelas, sepak bola selalu punya cara untuk merayakan loyalitas.



