Krisis Properti China Tekan Harga Minyak Global, Indonesia Kebagian Dampak Positif
Baca dalam 60 detik
- Produksi diesel China merosot ke level terendah sejak 2010 akibat kolapsnya sektor konstruksi, dengan penurunan lebih dari 900.000 barel per hari dalam dua bulan.
- Anjloknya permintaan bahan bakar dari China menjadi penyeimbang atas ketegangan di Selat Hormuz, sehingga harga minyak dunia tidak melonjak drastis.
- Sebagai importir minyak, Indonesia menuai keuntungan dari stabilitas harga, namun transformasi struktural menuju energi listrik dan petrokimia mengubah lanskap permintaan global.

Situs konstruksi yang terbengkalai di China menjadi alasan utama harga bahan bakar minyak tidak meroket lebih tinggi tahun ini, meskipun ketegangan di Selat Hormuz sempat memicu lonjakan harga sementara. Analis Bloomberg Opinion, David Fickling, mengungkapkan bahwa penurunan dramatis aktivitas properti di negeri Tirai Bambu justru meredam dampak krisis pasokan global.
Data menunjukkan bahwa produksi diesel China pada Juni lalu hanya mencapai 12,9 juta ton, angka terendah sejak 2010 jika mengabaikan masa pandemi. Sementara itu, produksi aspal juga jatuh ke titik paling rendah sejak kepemimpinan Xi Jinping pada 2012. Kedua produk ini sangat terkait erat dengan industri konstruksi: diesel digunakan untuk menggerakkan alat berat seperti ekskavator dan truk mixer, sedangkan aspal berfungsi untuk melapisi jalan proyek baru.
Penurunan ini tidak terlepas dari kolapsnya sektor properti China yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam skala dan ukuran. Pada musim puncak konstruksi Maret-Juni, luas lantai bangunan yang ditambahkan hanya 131 juta meter persegi, seperenam dari rata-rata lima tahun sebelumnya. Akibatnya, konsumsi diesel merosot tajam—dari Maret ke Juni, produksi diesel turun sekitar 900.000 barel per hari, lebih dari sepertiga dari total penurunan 2,5 juta barel per hari secara keseluruhan. Produksi aspal bahkan turun lebih dari dua pertiga dari puncaknya setahun lalu.
Bagi Indonesia, fenomena ini memberikan kabar baik di tengah tekanan fiskal. Sebagai negara pengimpor minyak bersih, setiap penurunan harga minyak global meringankan beban subsidi BBM dan menjaga inflasi tetap terkendali. Kepala Ekonom sebuah lembaga riset energi di Jakarta menilai bahwa stabilitas harga minyak saat ini menjadi bantalan bagi APBN, meski risiko geopolitik masih membayangi. Namun, ia mengingatkan bahwa transformasi China menuju energi listrik dan petrokimia bisa mengubah pola permintaan jangka panjang.
Fickling mencatat bahwa sebagian penurunan permintaan diesel juga dipicu oleh peralihan kilang China dari bahan bakar ke produk petrokimia seperti plastik dan nafta. Pada Juni, produksi plastik mentah bahkan melampaui bensin. Tren ini sudah diprediksi Mukesh Ambani dari Reliance Industries hampir satu dekade lalu, dan kini mulai terwujud. Selain itu, elektrifikasi armada truk berlangsung cepat—penjualan truk listrik telah mencapai sepertiga dari total pasar, dengan target pemerintah 40% pada 2030.
Meskipun Selat Hormuz kembali normal diharapkan memulihkan sebagian permintaan diesel, prospek jangka panjang tetap suram. Sektor konstruksi hanya menyumbang kurang dari seperlima konsumsi diesel China, sementara transportasi, pertambangan, dan pertanian masih dominan. Namun, dengan laju elektrifikasi yang terus meningkat, pemulihan di sektor properti pun tak akan mampu mengembalikan permintaan ke level semula. Pertanyaan yang tersisa: akankah negara-negara produsen minyak mampu beradaptasi dengan pergeseran struktural yang semakin nyata ini?


