UEFA Ancang-ancang Boikot Piala Dunia: Rapat Darurat Bahas Rencana Investasi FIFA
Baca dalam 60 detik
- UEFA menggelar rapat darurat pekan ini untuk merespons rencana FIFA menjual saham kompetisi utama, termasuk Piala Dunia, kepada investor swasta.
- Kekhawatiran muncul bahwa privatisasi akan mengubah kalender sepak bola dan memperkuat pengaruh investor, meski FIFA menjanjikan dana pembangunan $10 miliar.
- Ancaman boikot oleh asosiasi Eropa menjadi senjata tawar, namun posisi UEFA hanya seperempat dari total anggota FIFA, membuat skenario kompromi sulit diprediksi.

UEFA akan menggelar rapat darurat virtual dalam pekan ini bersama 55 asosiasi anggotanya untuk menyikapi langkah kontroversial FIFA yang berencana membuka keran investasi swasta ke kompetisi utama, termasuk Piala Dunia. Langkah ini dinilai sebagai ancaman terbesar bagi tatanan sepak bola global setelah gagalnya Liga Super Eropa pada 2021.
FIFA berniat membentuk anak usaha komersial baru yang akan mengelola penyelenggaraan Piala Dunia putra, putri, dan Piala Dunia Antarklub. Melalui entitas ini, investor eksternal dapat membeli saham dan ikut menentukan arah turnamen. FIFA beralasan langkah itu diperlukan untuk menambah pendanaan pengembangan sepak bola hingga 10 miliar dolar AS serta memberikan akses modal satu kali sebesar 20 juta dolar AS bagi masing-masing dari 211 asosiasi anggota.
Namun, UEFA dan sejumlah federasi Eropa menentang keras. Dalam pernyataan yang dirilis sebelum proposal resmi dipublikasikan, UEFA menyebut rencana itu telah "melewati batas". Federasi Sepak Bola Inggris (FA) juga mengklaim tidak dilibatkan dalam konsultasi awal. Satu sumber senior di sepak bola Inggris menyamakan ancaman ini dengan skandal Liga Super Eropa yang runtuh dalam 48 jam pada 2021, meski ia menilai FIFA tak akan semudah itu mundur.
Kekhawatiran utama adalah privatisasi dapat mendorong FIFA memperbanyak frekuensi turnamen dan memperbesar jumlah peserta demi mengejar pendapatan lebih tinggi. Jika itu terjadi, jadwal sepak bola yang sudah padat akibat ekspansi kompetisi klub Eropa akan semakin sesak. Bagi Indonesia, konsekuensinya bisa langsung terasa pada jadwal kualifikasi Piala Dunia dan turnamen regional. PSSI perlu mencermati dinamika ini agar kepentingan Tim Garuda tidak tergilas oleh keputusan yang diambil di level global.
Hubungan FIFA-UEFA memang tengah merenggang. Presiden UEFA Aleksander Ceferin bahkan memboikot final Piala Dunia terbaru sebagai protes atas sejumlah kebijakan, termasuk campur tangan politik dalam sanksi pemain. Sebelumnya, UEFA juga menolak habis-habisan usulan Piala Dunia dua tahun sekali yang digagas Arsene Wenger pada 2021. Kini, dengan proposal investasi ini, ketegangan kembali memuncak.
Pertanyaan besarnya, apakah FIFA akan tetap memaksakan rencana ini meski dihadang UEFA? Berbeda dengan Liga Super Eropa yang digagas klub-klub papan atas, inisiatif FIFA datang dari induk organisasi yang memiliki legitimasi global. Namun, tanpa partisipasi tim-tim Eropa yang mendominasi sepak bola dunia, nilai komersial turnamen bisa anjlok. Pertarungan antara kepentingan pendanaan dan independensi sepak bola ini masih jauh dari kata usai, dan hasil rapat darurat UEFA pekan ini akan menjadi sinyal awal arah konflik ke depan.



