Moin Chaabani Dipercaya Menukangi Timnas Tunisia hingga 2030, Target Bangkit dari Keterpurukan
Baca dalam 60 detik
- Federasi Sepak Bola Tunisia resmi menunjuk Moin Chaabani sebagai pelatih kepala dengan kontrak empat tahun, mengemban misi membangkitkan timnas setelah kegagalan di Piala Dunia 2026.
- Chaabani, yang sebelumnya sukses membesut Renaissance de Berkane hingga gelar juara liga dan Piala Konfederasi CAF, untuk pertama kalinya menangani tim nasional.
- Tunisia akan memulai kualifikasi Piala Afrika 2027 pada September mendatang, menghadapi Uganda, Libya, dan Botswana di Grup H.

Federasi Sepak Bola Tunisia (FTF) resmi menunjuk Moin Chaabani sebagai pelatih kepala timnas senior mulai Juli 2025, dengan durasi kontrak hingga 2030. Keputusan ini diambil di tengah upaya pemulihan performa tim usai catatan buruk di putaran final Piala Dunia 2026.
Chaabani menggantikan pelatih asal Prancis, Herve Renard, yang hanya menangani dua laga terakhir fase grup Piala Dunia 2026. Renard ditunjuk setelah Sabri Lamouchi dipecat menyusul kekalahan telak 1-5 dari Swedia pada pertandingan pembuka. Namun, Renard gagal memperbaiki keadaan; Tunisia kembali tumbang 0-4 dari Jepang dan 1-3 melawan Belanda. Kekalahan beruntun itu mencatatkan sejarah kelam: untuk pertama kalinya Tunisia kehilangan seluruh pertandingan dalam satu edisi Piala Dunia.
Pelatih berusia 45 tahun itu meninggalkan klub asal Maroko, Renaissance de Berkane, setelah membawa tim meraih gelar juara liga domestik musim 2024-25 dan menjuarai Piala Konfederasi CAF 2025. Sebelumnya, Chaabani juga sukses mengantarkan Esperance Tunis meraih dua gelar Liga Champions Afrika. Meski prestasi klubnya gemilang, ini menjadi pengalaman pertamanya menangani tim nasional.
Konteks Indonesia: Tingginya frekuensi pergantian pelatih di tubuh timnas Tunisiaโtujuh kali dalam waktu kurang dari dua tahunโmenjadi pengingat bagi PSSI akan pentingnya kontrak jangka panjang demi stabilitas program sepak bola. Pengalaman Indonesia sendiri kerap diwarnai rotasi pelatih cepat yang menghambat pembangunan skuad jangka panjang. Langkah Tunisia yang memberikan kepercayaan kepada Chaabani hingga 2030 bisa menjadi model bahwa kesabaran dan kesinambungan adalah kunci membangun tim yang kompetitif di level internasional.
Jelang kualifikasi Piala Afrika 2027, Tunisia tergabung di Grup H bersama Uganda, Libya, dan Botswana. Laga perdana dijadwalkan berlangsung pada September mendatang. Chaabani diharapkan mampu membawa kembali kejayaan yang sempat diraih pada era 2000-an, ketika Tunisia menjadi juara Piala Afrika 2004 dan tampil di tiga putaran final Piala Dunia berturut-turut (2002, 2006, 2018).
Pertanyaan besarnya, akankah kontrak sepanjang setengah dekade ini memberi cukup waktu bagi Chaabani untuk membangun fondasi permainan yang solid, atau justru menjadi bumerang jika target-target awal tak terpenuhi? Dengan persaingan ketat di sepak bola Afrika, tekanan akan segera datang.



