Taika Waititi Bantah 'Klara And The Sun' Berisi Robot Pembunuh: Ini Drama Tentang Cinta
Baca dalam 60 detik
- Film adaptasi novel Kazuo Ishiguro ini dibintangi Jenna Ortega sebagai android bertenaga surya yang menjadi sahabat anak sakit.
- Sutradara Taika Waititi menegaskan karyanya kali ini serius tanpa twist konyol seperti robot pembunuh.
- Film dijadwalkan rilis di Inggris pada 23 Oktober dan diprediksi memancing diskusi soal cinta dan kemanusiaan.

Taika Waititi kembali ke layar lebar setelah tiga tahun absen sejak film dokumenter sepak bola 'Next Goal Wins'. Kali ini, sang sutradara menggarap adaptasi novel 'Klara And The Sun' karya Kazuo Ishiguroโsebuah drama fiksi ilmiah yang jauh dari ciri khas komedi gelapnya. Waititi bersumpah tidak akan ada 'twist robot pembunuh massal' dalam film yang dibintanginya bersama Jenna Ortega, Amy Adams, Natasha Lyonne, dan Steve Buscemi.
Dalam wawancara dengan Empire Magazine, Waititi mengungkapkan bahwa dirinya sempat tergoda untuk membuat film ini konyol, namun sadar bahwa pendekatan itu justru akan merusak esensi cerita. 'Ini drama, bukan komedi. Begitu saya sadar, segalanya jadi lebih mudah,' ujarnya. Ia menambahkan bahwa filmnya tidak memiliki 'twist besar di mana robot mulai membunuh semua orang'. Menurutnya, cerita ini 'mengalir begitu saja tanpa kejutan berlebihan.'
Novel 'Klara And The Sun' bercerita tentang Klara, robot tenaga surya yang dibeli seorang ibu untuk menemani putrinya yang sakit di masa depan distopia. Waititi menekankan bahwa film ini adalah eksplorasi tentang konsep cinta. 'Manusia memang sulit dicintai. Jika Anda bukan manusia, Anda mungkin bertanya: apa yang membuat makhluk ini layak dicintai? Mereka aneh, tidak masuk akal, dan tidak bisa diprediksi,' tuturnya kepada New York Times.
Bagi penikmat sastra di Indonesia, adaptasi Ishiguro selalu dinanti. Sebelumnya, 'Never Let Me Go' juga diadaptasi menjadi film dengan nuansa melankolis serupa. 'Klara And The Sun' berpotensi menjadi tontonan yang mengundang diskusi tentang batas antara manusia dan mesin, topik yang relevan di tengah pesatnya perkembangan AI di Tanah Air. Waititi sendiri mengaku makin tertantang saat mendalami hubungan antarkarakter. 'Semakin dalam Anda menggali, semakin rumit jadinya,' katanya.
Film ini dijadwalkan rilis di Inggris pada 23 Oktober mendatang. Belum ada kabar mengenai jadwal tayang di Indonesia, namun antusiasme penggemar sastra dan sinema independen diperkirakan akan tinggi. Pertanyaannya, apakah pendekatan dramatis Waititi akan membuahkan pujian seperti karyanya yang lebih ringan sebelumnya? Atau justru penonton akan merindukan sentuhan humor khasnya?



