Diskriminasi di Sepak Bola Inggris Capai Rekor, Kick It Out Desak Sanksi Lebih Berat
Baca dalam 60 detik
- Insiden diskriminasi di sepak bola Inggris mencapai rekor 1.255 kasus pada musim 2025/26, naik 31% dari musim sebelumnya.
- Kick It Out menuntut sanksi lebih keras dari FA setelah laporan rasisme naik 19% dan Islamofobia melonjak 88%.
- Kisah pemain semi-profesional yang menjadi korban pelecehan menunjukkan lemahnya penegakan aturan di level akar rumput.

Jumlah insiden diskriminasi di sepak bola Inggris mencapai titik tertinggi sepanjang sejarah pada musim 2025/26, mendorong organisasi anti-diskriminasi Kick It Out untuk mendesak penerapan sanksi yang jauh lebih berat. Data yang dirilis organisasi itu menunjukkan bahwa praktik rasis, homofobik, dan bentuk intoleransi lain masih mengakar kuat di semua level kompetisi.
Kick It Out mencatat sebanyak 1.255 insiden diskriminasi sepanjang musim lalu, meningkat signifikan dari 960 kasus pada musim sebelumnya. Dari jumlah tersebut, rasisme mendominasi dengan 792 laporan—naik 19%—disusul homofobia yang melonjak 46% menjadi 203 kasus, serta Islamofobia yang meroket 88% menjadi 60 laporan. Direktur Eksekutif Kick It Out, Samuel Okafor, menilai bahwa rasisme telah tertanam dalam dalam sepak bola, namun ia juga menyebutnya sebagai cerminan masyarakat yang lebih luas.
Salah satu korban, Umar Ali, pemain semi-profesional Route One Rovers dari Bradford, mengalami pelecehan rasis saat menjadi pemain pengganti pada pertandingan Ramadan lalu. Sekelompok suporter lawan yang sudah berusia lanjut melontarkan hinaan bernada bernada paedofilia dan Islamofobia. Wasit pembantu sempat mendengar komentar itu, namun wasit utama tidak mengambil tindakan. Polisi akhirnya dilibatkan, namun Ali belum mendapat kabar mengenai hasil penyelidikan.
Manajer Patel, Mohammed Patel, mengkritik sanksi yang dijatuhkan oleh Northern Counties East Football League—denda £300 dan sembilan poin disiplin—sebagai tidak setimpal. Menurutnya, hukuman untuk pelanggaran administratif seringkali lebih berat daripada kasus diskriminasi. Patel telah melobi Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) namun belum mendapat respons. FA dalam pernyataannya mengklaim telah memperkenalkan sanksi lebih keras dan program perbaikan perilaku di level akar rumput, namun Patel menilai hal itu tidak cukup.
Fenomena serupa juga menjadi perhatian di Indonesia. Kasus diskriminasi rasial dan agama di stadion sepak bola masih kerap terjadi, seperti ejekan bernada SARA yang mencuat dalam beberapa pertandingan Liga 1. PSSI melalui komite disiplin telah menjatuhkan sanksi berupa denda dan larangan bertanding, namun efektivitasnya masih dipertanyakan. Banyak pengamat menilai bahwa pendekatan yang lebih sistemik—mulai dari edukasi hingga hukuman berat—perlu diterapkan agar sepak bola Indonesia benar-benar inklusif.
Ke depan, tekanan terhadap FA dan federasi sepak bola lainnya akan semakin besar. Okafor optimistis sanksi yang lebih keras akan segera diumumkan dalam beberapa pekan mendatang. Namun, tanpa adanya perubahan budaya yang mendasar dan pengawasan ketat di semua lini, pertanyaan yang diajukan Patel masih relevan: mengapa insiden serupa terus berulang?



