Krisis Sepak Bola Italia: Andrea Pirlo Diblokir karena Judi, Roberto Mancini dan Claudio Ranieri Masuk
Baca dalam 60 detik
- Paolo Maldini dan Leonardo mundur dari FIGC setelah kandidat pelatih Andrea Pirlo diblokir karena kontrak dengan perusahaan judi Rusia Fonbet.
- Sebagai gantinya, FIGC menunjuk Roberto Mancini sebagai pelatih dan Claudio Ranieri sebagai direktur teknis timnas Italia.
- Keputusan ini menuai skeptisisme publik, sementara FIGC tetap berkomitmen pada reformasi akademi usia muda jangka panjang.

Kekacauan internal Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) mencapai puncaknya setelah penunjukan Roberto Mancini sebagai pelatih anyar timnas diumumkan di tengah mundurnya Paolo Maldini dan Leonardo. Dalam waktu 17 hari yang penuh gejolak, struktur kepelatihan Italia berubah total, meninggalkan tanda tanya besar mengenai arah sepak bola Negeri Pizza.
Kisruh bermula ketika Paolo Maldini ditunjuk sebagai direktur teknis Club Italia dengan Leonardo sebagai penasihat khusus pada awal Juli. Mereka diberi mandat untuk memilih pelatih baru. Namun, setelah Carlo Ancelotti dan Pep Guardiola menolak tawaran, pilihan ketiga—Andrea Pirlo—justru dianggap bermasalah. Pirlo ternyata terikat kontrak sebagai duta merek global Fonbet, sebuah perusahaan judi Rusia yang dilarang di Italia. FIGC menyatakan ketidaktahuan soal kontrak yang telah berlangsung sejak Juli 2025 itu. Akibatnya, Malagò membatalkan pencalonan Pirlo, dan Maldini serta Leonardo mengundurkan diri hanya empat hari setelah mempresentasikan rencana mereka.
Malagò kemudian mengambil alih kendali. Dalam konferensi pers di Roma, ia mengumumkan bahwa Roberto Mancini akan kembali menjadi pelatih Italia—hampir dua tahun setelah kepergian kontroversialnya pada 2023. Bersamanya, Claudio Ranieri ditunjuk sebagai direktur teknis Club Italia. “Saya membutuhkan seseorang yang berbagi visi tentang siapa yang akan menjadi pelatih Italia,” ujar Malagò. Ia mengakui bahwa visi bersama mengenai Mancini tidak dimiliki oleh Maldini, sehingga perpisahan dilakukan secara konsensual.
Keputusan ini langsung memicu perdebatan. Sebuah jajak pendapat menunjukkan lebih dari 80% publik Italia meragukan Mancini sebagai sosok tepat, mengingat caranya meninggalkan timnas pada 2023. Malagò mengaku mempertimbangkan hal itu, namun tetap pada pilihannya. “Conte adalah sosok yang potensial, tetapi realitas hari ini berbeda,” katanya menanggapi pertanyaan mengapa Antonio Conte tidak dipilih. Ia juga menegaskan bahwa reformasi akademi usia muda tetap menjadi prioritas, dengan rencana enam tahun untuk pemain berusia 13-15 tahun.
FIGC juga masih akan mengumumkan figur ketiga yang akan mengawasi tim muda Italia—posisi yang pernah dipegang oleh Gigi Riva dan Gigi Buffon. Sementara itu, Lele Oriali disebut-sebut akan mengisi peran manajer tim yang membawahi level nazionale. Malagò enggan mengungkap angka gaji, namun memuji Mancini dan Ranieri yang menunjukkan sensitivitas terhadap anggaran federasi.
Penunjukan ini terjadi di tengah tekanan waktu. Italia harus segera bersiap menghadapi Nations League, di mana mereka tergabung dalam grup berat bersama Turki, Belgia, dan Prancis. Malagò mengingatkan bahwa pelatih baru hanya punya dua sesi latihan sebelum laga pertama. “Jika kita ingin objektif, finis keempat di grup itu logis,” ujarnya. Dengan kondisi ini, apakah tandem Mancini-Ranieri mampu mengembalikan kejayaan Italia? Atau justru reformasi akar rumput yang menjadi harapan sejati untuk masa depan? Jawabannya akan terlihat dalam beberapa bulan ke depan.



