Gempa 7,1 Guncang Kyushu, Jepang: Ratusan Ribu Mengungsi, Mal Runtuh
Baca dalam 60 detik
- Gempa magnitudo 7,1 di Kumamoto menyebabkan pusat perbelanjaan Aeon Mall ambruk dan puluhan orang terperangkap di dalamnya.
- Lebih dari 300.000 warga diperintahkan mengungsi, sementara 40.000 rumah tangga kehilangan aliran listrik dan sejumlah infrastruktur rusak parah.
- Jepang kembali dihadapkan pada risiko gempa besar setelah tragedi 2016 yang menewaskan 278 jiwa, menjadi pengingat bagi Indonesia yang juga rawan gempa.

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,1 yang mengguncang Pulau Kyushu, Jepang, pada Selasa sore waktu setempat telah menyebabkan pusat perbelanjaan Aeon Mall di Prefektur Kumamoto ambruk, menjebak puluhan orang di dalamnya. Otoritas pemadam kebakaran setempat melaporkan bahwa lantai dua bangunan komersial itu runtuh, dan sejumlah pengunjung dilarikan ke rumah sakit.
Pusat gempa berada di Prefektur Kumamoto, wilayah yang masih trauma dengan gempa dahsyat pada 2016 yang menewaskan 278 orang dan merusak ribuan bangunan. Kali ini, guncangan terjadi pada pukul 16.27 waktu setempat (07.27 GMT) dan memicu perintah evakuasi bagi sekitar 300.000 penduduk. Badan Meteorologi Jepang mencatat lebih dari 60 gempa susulan dengan magnitudo 1 hingga 4.
Dampak gempa tidak hanya terasa di pusat perbelanjaan. Di pabrik kertas Nippon Paper Industries Yatsushiro, cerobong asap setinggi belasan meter runtuh dan dilaporkan sejumlah pekerja hilang kontak. Polisi dan petugas pemadam kebakaran masih melakukan pencarian. Sementara itu, tembok bersejarah Kastil Kumamoto yang dibangun pada abad ke-17 kembali roboh, mengulangi kerusakan serupa saat gempa 2016. Sebuah jembatan penyeberangan juga ambruk, meski belum ada laporan korban jiwa.
Dalam dua jam pasca-gempa, peringatan tsunami sempat dikeluarkan namun kemudian dicabut. Jaringan listrik di Kyushu terganggu, dengan lebih dari 40.000 rumah tangga mengalami pemadaman berdasarkan data Kyushu Electric. Kerusakan jalan juga menghambat akses evakuasi dan bantuan.
Bagi Indonesia, gempa ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana serupa. Jepang memiliki sistem peringatan dini dan bangunan tahan gempa yang canggih, namun tetap saja gempa 7,1 mampu meruntuhkan mal dan pabrik. Indonesia, yang berada di Cincin Api Pasifik dengan ancaman gempa dan tsunami, perlu terus memperkuat infrastruktur dan edukasi mitigasi. Pengalaman Jepang dalam menangani gempa besar—seperti respons cepat evakuasi dan pemulihan listrik—dapat menjadi pelajaran berharga.
Ke depan, para ahli memperkirakan masih ada potensi gempa susulan signifikan dalam beberapa hari mendatang. Pertanyaan yang muncul: apakah Jepang mampu kembali pulih cepat seperti setelah gempa 2016, dan bagaimana Indonesia dapat belajar dari sistem tanggap darurat negeri sakura itu?



