Mancini Kembali Nahkodai Italia, Ranieri Jadi Direktur Teknik: 17 Hari yang Mengguncang Sepak Bola Italia
Baca dalam 60 detik
- FIGC resmi menunjuk Roberto Mancini sebagai pelatih timnas Italia, menggantikan Andrea Pirlo yang gagal karena masalah kontrak sponsor judi.
- Claudio Ranieri ditunjuk sebagai direktur teknik Club Italia, menggantikan Paolo Maldini yang mengundurkan diri bersama Leonardo.
- Keputusan ini diambil setelah kekacauan 17 hari yang melibatkan rencana besar restrukturisasi sepak bola Italia yang gagal total.

Setelah 17 hari penuh intrik dan perubahan mendadak, Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) akhirnya mengumumkan Roberto Mancini kembali menjabat sebagai pelatih timnas. Keputusan ini disertai penunjukan Claudio Ranieri sebagai direktur teknis Club Italia, posisi baru yang sebelumnya dipercayakan kepada Paolo Maldini.
Kekacauan bermula pada 12 Juli, ketika FIGC secara resmi mengumumkan Maldini sebagai direktur teknis pertama dalam sejarah federasi. Ia didampingi rekannya di AC Milan, Leonardo, sebagai penasihat khusus. Dua tokoh itu langsung mempresentasikan proyek ambisius: merombak sistem pembinaan usia muda Italia dan mendekati Pep Guardiola untuk menjadi pelatih. Namun, dalam waktu kurang dari sepekan, semuanya runtuh. Maldini dan Leonardo mengundurkan diri setelah pilihan ketiga mereka, Andrea Pirlo, diblokir karena kontraknya sebagai duta global dengan situs judi Rusia yang dilarang.
Presiden FIGC Giovanni Malagò, dalam konferensi pers, menjelaskan bahwa ia tidak menyetujui pencalonan Pirlo setelah mengetahui perjanjian sponsor yang bermasalah. “Saya tidak diberi waktu untuk membaca semuanya, tapi dari apa yang saya lihat, saya menyesalkan situasi ini,” ujar Malagò. Ia menegaskan bahwa keputusan berpisah dengan Maldini dan Leonardo diambil secara konsensual, tanpa kemarahan. “Seperti dalam banyak keluarga, ini adalah keputusan yang tenang dan sepakat untuk berpisah.”
Malagò kemudian beralih ke kandidat pilihannya sendiri: Roberto Mancini. Pelatih 60 tahun itu pernah menangani Italia dari 2018 hingga 2023, membawa pulang trofi Euro 2020 namun gagal lolos ke Piala Dunia 2022. Setelah mundur, ia melatih Arab Saudi dan Al-Sadd. Kembalinya Mancini dianggap sebagai langkah aman di tengah tekanan waktu. “Saya mengevaluasi siapa yang harus menjadi pelatih baru Italia, dan itu adalah Roberto Mancini,” kata Malagò.
Bagi publik sepak bola Indonesia, pergantian cepat di tubuh FIGC memberikan gambaran bahwa stabilitas kepelatihan tim nasional sangat bergantung pada keselarasan visi antara presiden federasi dan direktur teknis. Di Indonesia, PSSI juga tengah merombak struktur pembinaan setelah kegagalan di berbagai ajang. Pelajaran dari Italia: keputusan yang tergesa-gesa karena tekanan publik dapat memicu kekacauan internal. Apakah PSSI akan mengadopsi model baru Club Italia yang memberdayakan direktur teknis? Atau justru sebaliknya, semakin sentralistik?
“Saya butuh seseorang yang bisa berbagi visi tentang siapa pelatih Italia. Visi bersama tentang Mancini tidak ada dengan Paolo Maldini.” — Giovanni Malagò
Claudio Ranieri, pelatih legendaris yang membawa Leicester City juara Premier League, kini dipercaya mengisi pos direktur teknis. Pria 74 tahun itu sempat pensiun pada 2024, namun kembali menangani Roma pada November 2024 hingga akhir musim. Kedatangannya memberikan harapan baru bagi restrukturisasi Club Italia, meski banyak yang mempertanyakan efektivitas peran barunya.
Keputusan FIGC ini menyisakan tanda tanya: apakah Mancini bisa mengulang sukses Euro 2020 atau justru mengulang kegagalan kualifikasi Piala Dunia? Dan mampukah Ranieri membawa perubahan budaya yang dijanjikan Malagò?



