Italia Terancam Kehilangan Milan sebagai Tuan Rumah Euro 2032
Baca dalam 60 detik
- Stadion San Siro gagal memenuhi standar UEFA, memaksa Milan mencari arena baru jika ingin menjadi tuan rumah Euro 2032.
- Rencana pembangunan stadion baru Inter dan Milan terhambat penyelidikan kepolisian keuangan Italia.
- FIGC dan UEFA memberikan batas waktu akhir Juli untuk memilih lima stadion tuan rumah, dengan Milan dan Napoli terancam dicoret.

Italia berpotensi kehilangan Milan sebagai salah satu kota tuan rumah Piala Eropa 2032 setelah Stadion San Siro dinyatakan tidak memenuhi persyaratan UEFA. Keputusan krusial ini harus diambil dalam waktu dekat, mengingat federasi sepak bola Italia (FIGC) harus menyerahkan daftar final lima stadion pada akhir Juli mendatang.
Stadion San Siro yang legendaris, yang menjadi markas AC Milan dan Inter Milan, sudah lama membutuhkan renovasi besar-besaran. Penerangan, akses kursi, area keramahtamahan, dan sistem keselamatan tidak lagi sesuai standar UEFA. Meski kedua klub telah membeli area di sekitar San Siro untuk membangun stadion baru, proyek tersebut terhambat penyelidikan Kepolisian Keuangan Italia.
Ketidakpastian juga melanda Napoli dan Roma. Pemerintah kota Napoli telah menyetujui renovasi Stadio Diego Armando Maradona, sementara Presiden Napoli Aurelio De Laurentiis menginginkan stadion baru di lokasi lain. Di Roma, Klub AS Roma tengah merancang stadion baru, sementara Stadio Olimpico akan diperbaiki untuk memenuhi standar UEFA. Satu-satunya kota yang dianggap aman adalah Turin dengan Stadion Allianz milik Juventus.
Direktur Eksekutif UEFA untuk Euro 2032, Michele Uva, menegaskan bahwa tanpa stadion baru di Milan, turnamen tetap berjalan tapi tanpa Milan. "Jika Milan dan Napoli gagal memenuhi standar, mereka tidak akan masuk dalam dossier akhir," ujarnya saat konferensi pers April lalu. Uva menambahkan bahwa Euro 2032 adalah acara olahraga terbesar ketiga di dunia dengan pendapatan โฌ3,5 miliar dan dampak ekonomi sekitar โฌ10 miliar.
Ketua FIGC Giovanni Malagรฒ mengakui tantangan besar ini. "Kami memiliki rencana enam tahun untuk mengejar ketertinggalan yang jelas terlihat," katanya. Namun, waktu semakin sempit. Kegagalan Italia memperbaiki infrastruktur stadion menjadi pelajaran berharga bagi negara lain, termasuk Indonesia yang tengah mempersiapkan diri menjadi tuan rumah event internasional. Pengalaman Italia menunjukkan bahwa standar UEFA sangat ketat dan renovasi stadion memerlukan perencanaan matang serta kepastian hukum.
Ke depan, keputusan FIGC pada akhir Juli akan menentukan apakah Milan tetap menjadi bagian Euro 2032 atau harus rela kehilangan kesempatan bersejarah. Pertanyaannya, mampukah Italia mengatasi kendala birokrasi dan finansial untuk menyelamatkan salah satu ikon sepak bolanya?



