Gempa M7,1 di Kumamoto Picu Ledakan Mal, Puluhan Diduga Terjebak
Baca dalam 60 detik
- Gempa bumi berkekuatan M7,1 yang mengguncang Kumamoto, Jepang, menyebabkan ledakan di Aeon Mall dan ambruknya lantai dua bangunan.
- Otoritas Jepang mengkhawatirkan banyak pengunjung masih terjebak di dalam reruntuhan, sementara evakuasi dan penyelamatan terus dilakukan.
- Peristiwa ini menjadi pengingat bagi Indonesia, yang berada di kawasan rawan gempa, akan pentingnya standar bangunan tahan gempa dan prosedur evakuasi yang ketat.

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,1 yang mengguncang Prefektur Kumamoto, Jepang, Selasa sore, memicu ledakan di pusat perbelanjaan Aeon Mall, mengakibatkan lantai dua bangunan runtuh dan puluhan orang diduga masih terperangkap di dalam reruntuhan.
Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran Jepang (Fire and Disaster Management Agency) melaporkan ledakan terjadi setelah gempa besar pada pukul 16.27 waktu setempat. Operator mal, Aeon Mall, sebelumnya menyatakan bahwa karyawan dan pengunjung telah dievakuasi menyusul guncangan primer. Namun, ledakan yang disusul ambruknya struktur lantai dua menjebak banyak orang yang mungkin belum sempat keluar.
Rekaman dari lokasi menunjukkan plafon dan dinding pusat perbelanjaan tersebut ambrol, memperlihatkan rangka baja bangunan, sementara puing-puing berserakan di area kompleks. Seorang pria berusia 44 tahun yang mengelola salon rambut di dekat mal mengaku mendengar suara dentuman keras seperti kendaraan besar menabrak sesuatu. โSaya melihat gumpalan asap putih tepat setelah ledakan,โ ujarnya kepada media setempat.
Jepang, yang berada di Cincin Api Pasifik, memang sering dilanda gempa. Namun, peristiwa ini menyoroti kerentanan bangunan komersial yang mungkin tidak sepenuhnya tahan terhadap guncangan sekunder seperti ledakan. Di Indonesia, ancaman serupa terus mengintai. Wilayah seperti Sumatra, Jawa, dan Sulawesi memiliki risiko gempa tinggi akibat pertemuan lempeng tektonik. Kejadian di Kumamoto menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya inspeksi rutin terhadap struktur bangunan publik dan simulasi evakuasi pasca-gempa.
โGempa besar sering diikuti oleh bahaya sekunder, seperti kebakaran atau ledakan, yang bisa lebih mematikan,โ kata seorang analis kebencanaan dari Universitas Tokyo, yang meminta namanya tidak disebutkan.
Proses penyelamatan di Kumamoto masih berlangsung. Tim penyelamat Jepang yang terlatih dan dilengkapi alat berat berupaya menjangkau korban di dalam reruntuhan. Pertanyaan besar kini mengemuka: apakah prosedur evakuasi di Pusat perbelanjaan dapat diandalkan dalam skenario gempa susulan? Evaluasi terhadap bangunan Aeon Mall dan regulasi keselamatan serupa di Indonesia perlu dikaji ulang agar tragedi serupa tak terulang.



