TNI AU Kirim Tujuh Personel ke Guam untuk Asah Kemampuan Penjinakan Bom
Baca dalam 60 detik
- Tujuh prajurit TNI AU mengikuti latihan penjinakan bom di pangkalan militer Amerika Serikat di Guam selama empat hari pada Juli 2026.
- Pelatihan mencakup penanganan bom sisa perang, bom rakitan, dan drone bersenjata yang menjadi ancaman teror modern.
- Langkah ini memperkuat kapasitas teknis sekaligus kerja sama pertahanan Indonesia-AS di tengah meningkatnya kebutuhan keamanan dalam negeri.

Tujuh personel TNI Angkatan Udara dikirim ke Pangkalan Angkatan Udara Andersen di Guam, Amerika Serikat, untuk mengikuti latihan penjinakan bom yang digelar oleh Komando Pasukan Udara Pasifik AS (US PACAF) pada 20โ24 Juli 2026. Langkah ini menjadi bagian dari upaya peningkatan kapasitas teknis prajurit dalam menghadapi ancaman teror yang kian kompleks.
Latihan berlangsung selama empat hari dengan materi yang mencakup tiga kategori utama: bom sisa perang yang gagal meledak (Unexploded Ordnance/UXO), bom rakitan nonstandar militer (Improvised Explosive Device/IED), serta pesawat nirawak atau drone yang dipersenjatai. Kepala Dinas Penerangan TNI AU, Marsekal Pertama I Nyoman Suadnyana, menjelaskan bahwa ketiga modus tersebut menjadi ancaman prioritas yang harus dikuasai oleh personel pemadam bahan peledak.
โSelama di sana, mereka menerima pelatihan teori dan praktik untuk menangani berbagai jenis bahan peledak yang mungkin ditemui dalam aksi teror,โ kata I Nyoman dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Selasa. Ia menambahkan, seluruh kegiatan berlangsung sesuai prosedur keamanan yang ketat.
Penguasaan teknik penjinakan bom sisa perang (UXO) menjadi krusial mengingat Indonesia masih memiliki wilayah bekas konflik yang rawan ditemukan munisi aktif. Sementara itu, IEDโbom rakitan yang sering digunakan jaringan terorisโmenuntut pendekatan berbeda karena tidak mengikuti pola standar militer. Pelatihan drone bersenjata juga menjadi sorotan, seiring makin maraknya penggunaan pesawat nirawak untuk serangan udara oleh kelompok nonnegara.
Kepala Dinas Penerangan TNI AU menekankan bahwa latihan ini tidak hanya meningkatkan keterampilan individu, tetapi juga mempererat kerja sama bilateral dengan Pasukan Udara AS di kawasan Pasifik. Langkah ini sejalan dengan kebutuhan Indonesia untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman hibrida, seperti terorisme dan sabotase infrastruktur vital.
Bagi Indonesia, peningkatan kemampuan penjinakan bom memiliki implikasi langsung pada keamanan domestik. Bandara, pusat perbelanjaan, dan instalasi militer menjadi target potensial yang memerlukan respons cepat dari tim penjinak bahan peledak. Dengan tambahan jam terbang internasional, personel TNI AU diharapkan mampu memperbarui standar operasional prosedur penanganan bom di dalam negeri.
Ke depannya, TNI AU dihadapkan pada tantangan untuk mentransfer ilmu yang diperoleh ke satuan-satuan lain, sekaligus menjajaki kemungkinan latihan serupa secara berkala. Apakah aliansi pertahanan Indonesia-AS akan membuka lebih banyak peluang peningkatan kapasitas seperti ini? Jawabannya bergantung pada dinamika ancaman yang terus berubah.



