David Oyelowo Bintangi Film Balap Sepeda 'Little Five', Angkat Kisah Perempuan Penantang Tradisi
Baca dalam 60 detik
- Aktor David Oyelowo bergabung dalam film 'Little Five' yang terinspirasi dari balap sepeda Little 500 di Indiana University.
- Film ini mengisahkan sekelompok perempuan muda yang membentuk tim balap sepeda untuk menentang tradisi, dengan Oyelowo sebagai mentor.
- Produksi Somewhere Pictures milik Anne Hathaway, yang juga tengah menggarap 'The Princess Diaries 3', menunjukkan fokus pada pemberdayaan perempuan.

David Oyelowo, aktor yang dikenal lewat perannya dalam Selma, resmi bergabung dalam film terbaru bertajuk Little Five—sebuah drama olahraga yang diangkat dari ajang balap sepeda legendaris Little 500 di Indiana University. Film ini diproduksi oleh Somewhere Pictures milik Anne Hathaway bersama Pigasus Pictures, dan dijadwalkan menghadirkan kisah segar tentang perempuan yang berani menantang status quo.
Berdasarkan laporan Deadline, Oyelowo akan berperan sebagai Randall, seorang mentor bagi sekelompok gadis muda yang membentuk tim balap sepeda tidak biasa. Karakternya digambarkan sebagai mantan pembalap yang mimpinya kandas di masa lalu, sehingga ia membimbing para perempuan ini dengan penuh semangat. Para pemeran lain mencakup Ariana Greenblatt, Rain Spencer, Max Cortezi, Sasha Frolova, Nadia Alexander, dan Drew Powell.
Naskah Little Five ditulis oleh Gillian Williams, sementara kursi sutradara dipercayakan kepada Ian Samuels. Film ini terinspirasi langsung dari Little 500, balap sepeda tahunan yang digelar setiap akhir pekan ketiga bulan April di Indiana University. Balapan tersebut dikenal sebagai salah satu ajang paling ikonik di Amerika Serikat, dan kali ini akan menjadi latar bagi kisah pemberdayaan perempuan.
Selain Little Five, Somewhere Pictures juga tengah sibuk dengan proyek besar lainnya, yaitu The Princess Diaries 3. Anne Hathaway, yang memerankan Mia Thermopolis di dua film sebelumnya, mengungkapkan bahwa naskah sekuel tersebut masih terus digarap. Dalam wawancara dengan Entertainment Weekly, Hathaway menyatakan bahwa ia berharap film ketiga ini bisa menjadi proyek berikutnya setelah The Devil Wears Prada 2 sempat menyita perhatian.
“Jika saya belajar sesuatu dari The Devil Wears Prada 2, ekspektasi sangat tinggi, dan jika Anda ingin melakukannya, Anda harus membuat gebrakan,” ujar Hathaway. Adele Lim, sutradara yang ditunjuk dua tahun lalu, juga menyatakan antusiasmenya terhadap kelanjutan warisan The Princess Diaries yang menekankan kekuatan perempuan, kegembiraan, dan bimbingan.
Kehadiran Little Five dan The Princess Diaries 3 di bawah naungan Somewhere Pictures menunjukkan konsistensi Hathaway dalam memproduksi karya bertema pemberdayaan perempuan. Tren ini juga relevan bagi industri film Indonesia, yang mulai melirik cerita olahraga dengan protagonis perempuan, meskipun masih jarang. Film seperti Little Five bisa menjadi inspirasi bagi sineas Tanah Air untuk mengangkat kisah lokal, misalnya tentang atlet sepeda perempuan dari daerah-daerah.
Pertanyaan besarnya kini: akankah kualitas narasi Little Five mampu bersaing dengan drama olahraga lain yang lebih mapan? Atau justru akan menjadi angin segar yang mengubah wajah genre ini? Yang jelas, kolaborasi Oyelowo dan Hathaway patut dinantikan.



