Kak Seto Tebar Motivasi di LPKA Jakarta: 'Setiap Anak Layak Raih Mimpi'
Baca dalam 60 detik
- Tokoh pemerhati anak Seto Mulyadi memberikan sesi motivasi kepada 37 anak binaan di LPKA Kelas IIA Jakarta.
- Kegiatan ini menegaskan pentingnya pendekatan humanis dalam pembinaan anak yang berhadapan dengan hukum.
- Masyarakat diharapkan ikut mendukung reintegrasi anak binaan agar mereka kembali produktif.

Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) menggandeng Seto Mulyadi, yang akrab disapa Kak Seto, untuk menyuntikkan semangat kepada 37 anak binaan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas IIA Jakarta. Dalam sesi bertajuk "Kakak Bercerita Bersama Kak Seto", ia menekankan bahwa setiap anak memiliki potensi unik yang tak boleh terhapus oleh masa lalu.
Kak Seto yang juga menjabat Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) menyampaikan bahwa anak binaan tetaplah anak Indonesia yang perlu dihargai. โMereka memiliki hak yang sama untuk bermimpi dan diperlakukan dengan hormat,โ ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (28/1). Menurutnya, suasana di LPKA Jakarta sudah mencerminkan lingkungan ramah anak, di mana para binaan tetap bisa berekspresi dan tertawa.
Kegiatan ini tidak sekadar seremonial. Kak Seto membagikan kisah hidupnya yang penuh kegagalan sebelum sukses, untuk menunjukkan bahwa kesalahan bukanlah akhir. Ia mendorong anak-anak untuk berani gagal dan bangkit kembali. โBukan hanya berani sukses, tetapi juga berani gagal untuk menjadi lebih hebat,โ pesannya.
Kepala Kantor Wilayah Ditjenpas DKI Jakarta, Wachid Wibowo, mengajak para anak binaan untuk menjadikan masa pembinaan sebagai momentum introspeksi. โKemarin mungkin ada pelanggaran, hari ini mulailah bertobat. Manfaatkan waktu untuk belajar,โ katanya. Ia menegaskan bahwa negara dan keluarga masih membutuhkan mereka.
Juru Bicara Ditjenpas, Rika Aprianti, menambahkan bahwa pembinaan di LPKA bukan hanya menjalani hukuman, melainkan proses memulihkan harapan dan membangun karakter. โDi balik tembok LPKA, masih ada mimpi yang dijaga dan masa depan yang layak diperjuangkan,โ ujarnya.
Kunjungan ini menjadi pengingat bahwa sistem pemasyarakatan anak di Indonesia perlu terus didorong agar berorientasi pada rehabilitasi, bukan sekadar hukuman. Kehadiran tokoh seperti Kak Seto diharapkan mampu mengikis stigma masyarakat terhadap anak binaan. Pertanyaannya, sejauh mana program serupa dapat diperluas ke seluruh LPKA di Indonesia agar setiap anak mendapat kesempatan kedua yang setara?



