Keigo Higashino Tutup Usia: Warisan Sang Maestro Misteri yang Mendunia
Baca dalam 60 detik
- Keigo Higashino, penulis misteri Jepang dengan lebih dari 100 buku, meninggal dunia setelah karier 40 tahun.
- Perjuangannya meraih Naoki Prize di usia 47 setelah lima kali gagal mencerminkan dedikasi pada genre misteri.
- Karya-karyanya seperti 'The Devotion of Suspect X' mendapat pengakuan global, termasuk nominasi Edgar Award.

Keigo Higashino, maestro misteri Jepang yang karya-karyanya telah memikat jutaan pembaca di seluruh dunia, meninggal dunia pada usia 67 tahun. Selama lebih dari empat dekade, ia meninggalkan jejak tak terhapuskan melalui lebih dari 100 novel yang tidak hanya populer di Jepang, tetapi juga diterjemahkan ke berbagai bahasa, termasuk Indonesia.
Higashino memulai debutnya pada 1985 dengan novel Hokago (After School), sebuah misteri ruang terkunci di lingkungan sekolah. Saat itu, ia masih bekerja sebagai insinyur dan menulis di sela-sela kesibukan. Keputusannya mengikuti ajang Edogawa Rampo Prize didorong oleh alasan yang gamblang: gaji di perusahaannya rendah. Baru pada percobaan ketiga ia berhasil menang dan melambung ke panggung sastra.
Namun, jalan menuju puncak tak pernah mulus. Higashino mengalami masa-masa sulit secara finansial dan emosional. Ia baru meraih Naoki Prize, penghargaan sastra bergengsi Jepang, pada usia 47 tahun setelah lima kali dinominasikan. Dalam sebuah wawancara, ia pernah berseloroh, โSetiap kali gagal, saya tenggelamkan kesedihan dalam alkohol dan mencaci para juri.โ Kegagalan demi kegagalan justru mengasah kemampuannya dalam merangkai cerita yang tajam dan penuh kejutan.
Gaya penulisan Higashino dikenal tenang dan tidak berlebihan, namun sarat muatan sosial. Dalam novel Tegami (Letter), ia mengupas tuntas stigma terhadap keluarga pelaku kriminal. Sementara itu, The Keeper of the Camphor Tree mengangkat drama manusia di sekitar pohon kamper yang memiliki kekuatan misterius. Ia pernah mengungkapkan bahwa di dalam dirinya selalu ada pengacara, jaksa, dan hakim yang berdebatโsebuah cara pandang yang membuat tulisannya terasa netral dan obyektif.
Popularitas Higashino melampaui batas negara. The Devotion of Suspect X masuk nominasi Edgar Award dari Mystery Writers of America pada 2012. Ketua dewan juri saat itu, James Benn, memuji novel tersebut sebagai bacaan orisinal dan mendebatkan. Gaya berpikir Higashino dinilai dekat dengan sastra Inggris-Amerika, sehingga mudah diterima pembaca global. Di Indonesia, buku-bukunya seperti Kerangka Kaca dan Malaikat Jatuh telah menjadi bacaan favorit para penggemar misteri.
Hingga akhir hayatnya, semangat menulis Higashino tak pernah surut. Saat menerima Medal with Purple Ribbon pada 2023, ia berujar, โYang ada di pikiran saya hanyalah menulis cerita yang menghibur pembaca. Perasaan saya seperti mendaki gunung; jika terus melangkah pasti akan sampai ke puncak.โ Kini, meskipun ia telah tiada, puncak yang ia capai tetap menjadi warisan abadi bagi dunia sastra.



