India Dukung Penuh Pembersihan Ranjau di Kamboja, 1.403 Jiwa Terbebas dari Ancaman
Baca dalam 60 detik
- India menandatangani nota kesepahaman dengan Kamboja untuk membersihkan lahan seluas 163.207 meter persegi dari ranjau darat dan sisa peledak perang di Provinsi Pursat.
- Proyek ini diproyeksikan langsung bermanfaat bagi 1.403 penduduk setempat melalui pemulihan lahan pertanian, perumahan, dan pendidikan risiko peledak.
- Inisiatif ini merupakan bagian dari komitmen jangka panjang India dalam aksi kemanusiaan di Kamboja sejak 1990-an, termasuk program 'India for Humanity' yang membantu ratusan korban ranjau.

India dan Kamboja sepakat memperluas kerja sama kemanusiaan di bidang pembersihan ranjau. Melalui nota kesepahaman yang ditandatangani pada 27 Juli, New Delhi akan mendanai proyek Quick Impact Project (QIP) untuk membersihkan lahan seluas 163.207 meter persegi di Desa Mol, Kecamatan Phnom Kravanh, Provinsi Pursat.
Kesepakatan itu diteken oleh Menteri Senior Ly Thuch, selaku Wakil Presiden Pertama Otoritas Aksi Ranjau dan Bantuan Korban Kamboja (CMAA), serta Duta Besar India untuk Kamboja, Vanlalvawna Bawitlung. Proyek ini menargetkan pembebasan lahan yang terkontaminasi ranjau anti-personel dan sisa peledak perang (ERW) yang masih mengancam warga.
Secara langsung, sekitar 1.403 jiwa atau 369 rumah tangga akan merasakan manfaatnya. Lahan yang dibersihkan akan digunakan kembali untuk pertanian yang aman, pembangunan perumahan, dan pengembangan komunitas. Selain pembersihan fisik, proyek ini juga mencakup edukasi risiko peledak untuk meningkatkan kesadaran dan keselamatan masyarakat setempat.
Kerja sama India-Kamboja di sektor ini sudah berlangsung lama. Sejak awal 1990-an, New Delhi rutin memberikan bantuan teknis, pelatihan kapasitas, peralatan pembersihan, anjing pendeteksi ranjau, serta dukungan bagi korban ranjau. Dalam kunjungan Wakil Presiden India ke Kamboja pada 2022, diumumkan bantuan tambahan untuk empat distrik di Provinsi Koh Kong, dan kini tiga di antaranya telah dinyatakan bebas ranjau.
Bagi Indonesia, kerja sama ini menjadi pengingat bahwa tantangan serupa masih ada di kawasan ASEAN. Meskipun Indonesia tidak menghadapi ancaman ranjau skala besar seperti Kamboja, pengalaman Phnom Penh dalam merehabilitasi lahan pasca-konflik dapat menjadi referensi bagi upaya penanggulangan sisa peledak perang di beberapa wilayah Indonesia, seperti di Maluku atau Aceh yang masih menyisakan risiko dari konflik masa lalu.
Menurut Duta Besar Bawitlung, pembersihan ranjau bukan hanya tentang menghilangkan bahaya tersembunyi, melainkan juga menciptakan peluang pembangunan berkelanjutan. โIni tentang meningkatkan kehidupan dan memastikan masa depan yang lebih aman dan sejahtera bagi masyarakat,โ ujarnya. Sementara itu, Menteri Ly Thuch menegaskan bahwa setiap hektare lahan yang berhasil dibersihkan bersama India membawa Kamboja selangkah lebih dekat menjadi negara bebas ranjau.
Melanjutkan proyek-proyek sebelumnya yang sukses di bawah kerangka Mekong-Ganga Cooperation, Kamboja menargetkan status bebas ranjau pada 2030. Dengan dukungan India dan mitra internasional lainnya, target tersebut diharapkan tercapai, meskipun masih ada daerah-daerah terpencil yang perlu ditangani. Pertanyaannya, mampukah momentum ini menginspirasi lebih banyak negara ASEAN untuk bergandengan tangan dalam misi kemanusiaan serupa?



