Durian Melimpah, Petani Malaysia Gigit Jari: Harga Musang King Anjlok ke Rp6.000 per Kg
Baca dalam 60 detik
- Panen raya durian 2026 di Malaysia akibat ekspansi besar-besaran untuk memenuhi permintaan China menyebabkan harga jual petani merosot tajam hingga Rp6.000 per kilogram untuk Musang King.
- Vietnam dan Thailand mendominasi pasar durian China dengan nilai ekspor di atas US$3 miliar, sementara Malaysia hanya mencatat US$37 juta durian segar—sebuah kesenjangan yang memicu persaingan harga.
- Petani didorong beralih ke agrowisata, pengolahan buah mutu rendah, dan diversifikasi pasar ke negara seperti AS dan Jepang agar tidak bergantung pada satu kanal ekspor.

Harga durian Musang King yang pernah menjadi simbol kemewahan kini jatuh ke level terendah—RM6 per kilogram, atau sekitar Rp20.000—di pasar domestik Malaysia, akibat banjir pasokan yang tak tertampung oleh permintaan.
Ledakan produksi ini bukanlah kejutan. Sejak lima hingga sepuluh tahun lalu, petani Malaysia berlomba memperluas kebun durian setelah melihat lonjakan permintaan dari China. Namun, karena pohon durian butuh bertahun-tahun untuk berbuah, panen yang berlimpah pada 2026 bersamaan dengan musim di berbagai negara bagian menciptakan gelombang pasok yang jauh melampaui daya serap pasar.
Direktur Chow Kai Pheng Enterprise Sdn Bhd (CKP), Stephen Chow, mengatakan bahwa eksportir kini saling banting harga untuk mempertahankan volume penjualan. “Tantangannya bukan lagi mencari pembeli, tetapi tetap kompetitif,” ujarnya. Akibatnya, margin keuntungan petani tergerus drastis meskipun jumlah penjualan tetap sehat.
Di sisi lain, pembeli durian justru diuntungkan. Mohammad, pedagang durian di Damansara, mengaku terpaksa memberikan durian gratis—termasuk Musang King—pada akhir Juni hingga awal Juli. “Saya disuruh obral di pinggir jalan,” katanya. Ia menilai keserakahan petani yang hanya menanam durian menjadi penyebab utama oversupply. “Petani harus lebih fleksibel, menanam buah atau sayuran lain di luar musim durian,” sarannya.
Universiti Putra Malaysia, Dr. Mohd Firdaus Ismail, menilai bahwa ekspansi lahan tanpa terkendali hanya akan memperparah kelebihan pasok di masa depan. Ia merekomendasikan peralihan dari strategi berbasis volume menuju pendekatan yang menekankan kualitas, ketahanan, dan akses pasar. “Petani kecil perlu membentuk koperasi untuk berbagi alat sortasi, gudang dingin, dan daya tawar,” ujarnya.
Dari sudut pandang Indonesia, fenomena ini menjadi pelajaran berharga. Permintaan durian di dalam negeri yang terus tumbuh—terutama dari kelas menengah—berpotensi menjadi pasar penyerap kelebihan pasokan Malaysia. Namun, persaingan harga bisa menekan petani lokal jika tidak ada perlindungan tarif atau standar mutu yang ketat. Pelaku industri di Indonesia sebaiknya tidak mengulangi kesalahan ekspansi tanpa jaminan pasar, dan mulai mengembangkan produk olahan serta sertifikasi geografis untuk membedakan diri.
Sementara itu, Stephen Chow tetap optimistis. Ia melihat era harga tinggi telah berakhir dan digantikan oleh pasar global yang lebih besar dan lebih berkelanjutan. “Agrowisata adalah masa depan,” tegasnya. CKP mulai mengembangkan wisata edukasi di kebun Pahang, di mana pengunjung bisa menikmati durian segar langsung dari pohon. Langkah ini diharapkan membuka sumber pendapatan baru sekaligus mempromosikan durian Malaysia di kancah internasional.
Namun, pertanyaan besar masih menggantung: apakah petani durian Malaysia—dan Indonesia—mampu bertransformasi dari pengejar kuantitas menjadi pengelola kualitas sebelum harga jatuh lebih dalam? Ataukah musim panen raya berikutnya akan kembali menjadi bencana?



