Thiago Motta: Kandidat Pelatih Italia yang Mampu Menjembatani Perbedaan Kubu?
Baca dalam 60 detik
- Thiago Motta muncul sebagai kandidat utama pelatih timnas Italia setelah sejumlah nama besar menolak tawaran.
- Motta dianggap mampu menyatukan keinginan Paolo Maldini dan Giovanni Malagò yang selama ini berseberangan.
- Jika resmi ditunjuk, mantan pemain naturalisasi ini harus membuktikan diri setelah kegagalan di Juventus.

Kursi pelatih tim nasional Italia kembali menjadi perbincangan hangat setelah kabar terbaru menyebutkan bahwa Thiago Motta, mantan gelandang naturalisasi yang kini berusia 43 tahun, menjadi kandidat yang diprediksi mampu menyatukan faksi-faksi yang selama ini berseberangan di federasi sepak bola Italia (FIGC).
Proses seleksi pelatih baru Gli Azzurri memang tak mulus. Sejumlah nama top seperti Carlo Ancelotti dan Pep Guardiola telah menolak tawaran, sementara pencalonan Andrea Pirlo gagal karena kontroversi keterlibatannya sebagai duta merek situs judi Rusia. Situasi ini membuat FIGC harus memutar otak mencari figur yang tidak hanya kompeten secara taktik, tetapi juga bisa diterima oleh semua pihak—terutama oleh legenda seperti Paolo Maldini dan pengusaha kuat Leonardo, yang selama ini memiliki visi berbeda dengan Presiden FIGC Giovanni Malagò.
Menurut laporan La Gazzetta dello Sport, diskusi dengan Thiago Motta telah berlangsung dan hasilnya cukup positif. Motta dianggap sebagai jembatan antara keinginan Maldini dan Leonardo yang menghendaki pendekatan sepak bola modern, serta tuntutan Malagò yang menginginkan figur berpengalaman. Dengan usia yang masih relatif muda—44 tahun bulan depan—Motta dinilai memiliki kombinasi antara pengalaman sebagai pemain top Eropa dan filosofi kepelatihan yang segar.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, perkembangan ini menarik karena Motta adalah contoh sukses pemain naturalisasi yang berkarier gemilang di level internasional. Ia lahir di Brasil, tetapi memilih membela Italia dan turut serta dalam skuad yang mencapai final Piala Eropa 2012. Keputusannya saat itu menjadi inspirasi bagi pemain keturunan di Indonesia yang ingin membela negara yang berbeda dari tanah leluhur. Selain itu, perjalanan Motta dari Genoa ke Inter Milan, lalu ke Paris Saint-Germain, hingga menjadi pelatih di Bologna dan Juventus, memberikan pelajaran tentang pentingnya adaptasi dan kerja keras.
Namun, rekam jejak kepelatihan Motta tidak sepenuhnya mulus. Setelah sukses membawa Bologna lolos ke Liga Champions musim 2023/2024—sebuah pencapaian luar biasa bagi klub kecil—ia pindah ke Juventus pada musim panas 2024. Sayangnya, kariernya di Turin hanya bertahan delapan bulan. Ia dipecat pada Maret 2025 dengan catatan 18 kemenangan, 16 hasil imbang, dan 8 kekalahan dari 42 pertandingan. Angka ini menunjukkan bahwa meskipun ia mampu membangun tim yang solid, konsistensi dan hasil di level atas masih menjadi pekerjaan rumah.
Jika Motta resmi ditunjuk sebagai allenatore, tantangan terbesarnya adalah membangun kembali kepercayaan diri timnas Italia yang sempat goyah setelah gagal lolos ke Piala Dunia 2022. Dengan skuad yang mayoritas dihuni pemain muda berbakat seperti Nicolò Barella dan Alessandro Bastoni, Motta diharapkan bisa menerapkan gaya bermain menekan dan mengalir yang menjadi ciri khasnya selama menangani Bologna. Namun, pertanyaan besar muncul: apakah ia bisa belajar dari kegagalan di Juventus dan beradaptasi dengan tekanan tinggi di level internasional?
FIGC sendiri tampaknya ingin segera mengumumkan pelatih baru sebelum pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2026. Keputusan ini akan menjadi titik balik bagi sepak bola Italia yang tengah berusaha bangkit kembali. Apakah Thiago Motta adalah jawabannya? Atau justru akan menjadi episode baru dari drama panjang pencarian sosok ideal untuk kursi panas itu? Hanya waktu yang akan memberikan jawaban.



