Kejutan di Kuda Pelana: Lynn dan Ward Persembahkan Medali Ganda untuk Skotlandia
Baca dalam 60 detik
- Cammy Lynn yang finis ke-10 di all-around sehari sebelumnya, justru tampil gemilang dan merebut perunggu kuda pelana Commonwealth Games.
- Reuben Ward yang baru mencetak sejarah sebagai juara all-around pertama Skotlandia, menambah koleksi dengan medali perak di nomor favoritnya.
- Persahabatan keduanya menjadi sorotan, menunjukkan bahwa dukungan moral dapat mengantarkan atlet meraih hasil di luar ekspektasi.

Dua atlet senam Skotlandia, Reuben Ward dan Cammy Lynn, sukses menggondol medali perak dan perunggu di nomor kuda pelana Commonwealth Games yang berlangsung di Glasgow International Arena, Selasa (16/4). Prestasi ini menjadi kejutan, terutama bagi Lynn yang sehari sebelumnya hanya menempati posisi ke-10 di all-around.
Lynn yang tampil sebagai peserta keenam dari delapan finalis, sukses mencatatkan skor 13,8 dan langsung memimpin klasemen sementara. Meski akhirnya digeser oleh Jordan Carroll dari Kanada yang meraih emas dan Ward yang mendulang perak, Lynn tetap merasa bangga. Pasalnya, ia harus bersaing dengan atlet-atlet elite seperti Rhys McClenaghan (Juara Olimpiade asal Irlandia Utara) dan Ritam Malik (Australia).
"Saya hanya berpikir, 'oh, mungkin finis di lima besar sudah bagus'," ujar Lynn kepada BBC Sport Scotland. Namun, setelah dua rival terakhir gagal melampaui skornya, Lynn memastikan diri naik podium. Ia bahkan harus menunggu hasil protes yang diajukan tim Irlandia Utara atas nilai McClenaghanโyang akhirnya ditolak.
Bagi Lynn, medali ini terasa istimewa karena ia bisa berbagi podium dengan sahabatnya, Ward. Keduanya diketahui telah melalui perjalanan emosional sejak sehari sebelumnya. Ward baru saja mencatatkan sejarah sebagai juara all-around putra pertama Skotlandia di Commonwealth Games, sementara Lynn hanya menjadi penonton di peringkat ke-10.
Persaingan di kuda pelana juga menjadi ajang pembuktian bagi Ward yang sehari sebelumnya terjatuh saat tampil di nomor lantai dan wajahnya terbentur matras. Meski lelah dan penuh emosi, atlet berusia 21 tahun itu bangkit dan menampilkan rutinitas terbaiknya. "Saya bangun pagi dan berpikir 'hari ini adalah hari baru'. Saya memberikan segalanya di lantai dan nyaris berhasil, lalu di kuda pelana saya pikir 'saya harus berikan yang terbaik'," ungkap Ward.
Kisah Lynn dan Ward mengingatkan bahwa dalam olahraga, dukungan sesama atlet seringkali menjadi katalis performa. Di Indonesia, cabang senam artistik belum setenar bulu tangkis atau angkat besi, tetapi potensi atlet muda seperti Rifda Irfanaluthfi di nomor lantai dan kuda pelana putri patut diapresiasi. Prestasi Skotlandia membuktikan bahwa dengan pembinaan yang konsisten dan mental juara, atlet dari negara yang tidak termasuk kekuatan senam dunia pun bisa bersaing di panggung multievent.
Ke depan, tantangan bagi atlet senam Indonesia adalah memperbanyak pengalaman internasional dan membangun mentalitas seperti Lynn: tidak gentar meski harus berhadapan dengan nama-nama besar. Commonwealth Games mungkin bukan arena Indonesia, tetapi pelajaran dari Glasgow bisa menjadi motivasi untuk SEA Games, Asian Games, atau bahkan Olimpiade.



