Ibu Pelatih Juventus Luciano Spalletti Tutup Usia di 93, Sosok di Balik Bendera Italia yang Ikonik
Baca dalam 60 detik
- Ilva Spalletti, ibu dari pelatih Juventus Luciano Spalletti, meninggal dunia pada usia 93 tahun.
- Spalletti kerap membawa bendera Italia jahitan ibunya saat melatih, termasuk ketika menangani tim nasional.
- Pelatih berusia 65 tahun itu dikenal sangat protektif terhadap sang ibu, pernah meluapkan kemarahan atas hinaan suporter.

Luciano Spalletti, pelatih Juventus yang juga mantan arsitek tim nasional Italia, tengah berduka. Ibunda tercinta, Ilva Spalletti, meninggal dunia di usia 93 tahun di kota kelahiran mereka dekat Empoli. Sosoknya bukan sekadar ibu, melainkan inspirasi di balik salah satu simbol paling ikonik dalam karier Spalletti: bendera Italia raksasa yang selalu setia menemaninya di bangku pelatih.
Kepergian Ilva meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi Spalletti secara pribadi, tetapi juga bagi dunia sepak bola Italia. Sejak diumumkannya kabar ini, berbagai klub dan tokoh sepak bola berduyun-duyun menyampaikan belasungkawa. Sebagai bentuk penghormatan, Spalletti dipastikan absen dari sesi latihan pramusim Juventus hari ini.
Kisah bendera itu pernah diungkapkan Spalletti saat pertama kali ditunjuk menangani tim nasional Italia pada September 2023. “Saat usia 11 tahun, saya meminta ibu menjahitkan bendera Italia sebesar mungkin. Saat itu Piala Dunia di Meksiko, para ibu biasa menjahit di rumah. Saya ingin bendera terbesar untuk merayakan kemenangan fantastis 4-3 atas Jerman,” kenangnya. “Kini bendera itu selalu saya bawa ke bangku pelatih. Saya berharap mimpi itu bisa terulang, agar bendera ini bisa dikibarkan oleh semua anak seperti saya dulu. Ini mimpi yang menjadi nyata.”
Spalletti dikenal sebagai sosok yang sangat melindungi ibunya. Pada 2022, saat masih menangani Napoli, ia meluapkan kemarahan setelah pertandingan Serie A melawan Fiorentina. Kala itu, sekelompok oknum suporter di belakang bangku pelatih melontarkan hinaan bernada personal. “Mereka benar-benar tidak sopan, terus-menerus menghina dari awal hingga akhir,” kesalnya. “Anak-anak di dekat sana masih mendengar mereka meneriakkan ‘ibu kalian’. Sayangnya, ini sering terjadi di Florence, mereka suka melewati batas.”
Bagi penggemar sepak bola Indonesia yang mengagumi Spalletti—baik saat menangani Napoli, Inter Milan, Roma, maupun timnas Italia—kisah ini mengingatkan bahwa di balik sosok pelatih keras dan taktis, ada hubungan emosional yang mendalam dengan sang ibu. Nilai bakti kepada orang tua adalah universal, dan Indonesia dengan budaya kekeluargaan yang kuat tentu bisa merasakan getaran yang sama. Kehilangan seorang ibu adalah duka yang tak tergantikan, namun warisan semangat yang ditinggalkan—seperti bendera jahitan Ilva—akan terus hidup.
Ke depan, Spalletti harus menghadapi musim baru Juventus tanpa kehadiran fisik ibunya. Pertanyaan besarnya: akankah ia mampu menjadikan duka ini sebagai bahan bakar tambahan untuk meraih kesuksesan, seperti yang ia lakukan selama ini dengan membawa bendera kenangan dari masa kecil? Jawabannya akan terlihat di lapangan hijau, tempat Spalletti selalu menemukan pelarian dan sekaligus panggilan jiwa.



