Tyla Bantah Cap 'Mean Girl': Saya Blak-blakan, Bukan Kejam
Baca dalam 60 detik
- Penyanyi Tyla menegaskan dirinya bukan 'mean girl' seperti yang dituduhkan, melainkan hanya seorang yang blak-blakan dan jujur dalam berpendapat.
- Album kedua bertajuk APOP* menjadi wadah baginya untuk memperluas definisi pop dari perspektif Afrika, menampilkan kolaborasi dengan Zara Larsson.
- Ia mengaku kerap kesulitan memenuhi ekspektasi industri musik, namun tetap memilih mempertahankan pribadi aslinya di usia 24 tahun.

Penyanyi muda asal Afrika Selatan, Tyla, akhirnya angkat bicara soal reputasi 'mean girl' yang melekat padanya. Dalam wawancara terbaru di The Ebro Show, ia menegaskan bahwa citra tersebut tidak sesuai kenyataan: dirinya hanyalah seorang yang blak-blakan dan apa adanya, bukan bermaksud jahat.
Tyla—yang baru merayakan usia 24 tahun—mengaku bahwa sifat to the point-nya sering disalahartikan sebagai ketus. "Saya suka menganggap diri saya baik hati. Tapi saya memang punya pendirian dan blak-blakan. Dari tempat saya berasal… kami bicara apa adanya. Tidak perlu terlalu serius," ujarnya. Peraih Grammy ini juga menyebut bahwa manajernya sering berusaha mengendalikan perilakunya di media sosial, namun ia memilih untuk tetap menjadi dirinya sendiri. "Mereka seperti ingin memenjarakan saya. Tapi saya tidak mau menjadi pop star justru menghentikan hidup saya," tegasnya.
- Usia Tyla saat ini 24 tahun, baru merilis album kedua APOP*.
- Album ini menampilkan vokal Zara Larsson, dirancang untuk memperluas definisi pop Afrika.
- Ia menyebut misinya adalah "membawa huruf A ke pop"—artinya African Pop.
- Dalam wawancara, ia menyebut manajernya kerap memintanya untuk tidak terlalu blak-blakan di media sosial.
Di tengah promosi album barunya yang bertajuk APOP* (singkatan dari African Pop), Tyla juga menjelaskan inspirasi di balik karya tersebut. "APOP* adalah upaya saya memperluas gagasan tentang seperti apa bintang pop Afrika dan bagaimana suaranya. Saya ingin menunjukkan keragaman pengaruh yang membentuk saya," jelasnya. Kolaborasi dengan Zara Larsson menjadi salah satu contoh bagaimana ia memadukan elemen global dengan akar Afrika.
Fenomena ini menarik untuk disandingkan dengan industri musik Indonesia, di mana artis semisal Agnez Mo atau Isyana Sarasvati juga kerap dianggap 'sombong' karena menyuarakan pendapat di luar kebiasaan. Di era media sosial, tekanan publik terhadap figur publik—terutama perempuan—untuk selalu tampak ramah dan tidak kontroversial semakin besar. Tyla justru memilih jalur berbeda: menolak disetir oleh ekspektasi industri dan publik.
Ke depan, sikap blak-blakan Tyla bisa menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi, ia mendapatkan dukungan dari penggemar yang menghargai keotentikan. Namun di sisi lain, ia tetap harus menghadapi tekanan standar ganda yang sering dihadapi perempuan di industri hiburan. Mampukah Tyla terus mempertahankan integritasnya tanpa kehilangan popularitas?



