Chelsea Buru Dua Gelandang: Alex Scott Jadi Andalan Masa Depan, Henderson Pelapis Senior
Baca dalam 60 detik
- Shania Twain menyatakan tubuhnya kebal terhadap upaya body shaming, menolak komentar negatif tentang penampilan.
- Penyanyi 60 tahun itu memilih fokus pada kesehatan dan penerimaan diri, terutama setelah mengalami perubahan fisik akibat menopause.
- Cedera panggung di Las Vegas pada 2019 menjadi titik balik yang mengubah pandangannya tentang tubuh dan penuaan.

Xabi Alonso memulai revolusi di Chelsea dengan mengubah haluan kebijakan transfer yang sebelumnya fokus pada pemain muda mentah. Kini, pelatih asal Spanyol itu mengincar dua gelandang Inggris yang mewakili dua kutub berbeda: pengalaman dan potensi masa depan. Jordan Henderson, 36 tahun, akan segera bergabung dengan status bebas transfer dari Brentford, sementara Alex Scott, 22 tahun, menjadi target utama dengan nilai transfer mencapai £80 juta.
Sejak diakuisisi BlueCo pada 2022, Chelsea telah menghabiskan lebih dari £1,4 miliar untuk merekrut pemain, mayoritas berusia di bawah 23 tahun. Akibatnya, rata-rata usia skuad The Blues musim lalu hanya 23,5 tahun—terendah di Premier League. Alonso menilai ketimpangan ini sebagai kelemahan, terutama dalam menghadapi momen krusial. “Kami butuh pemimpin di lapangan, bukan sekadar bakat mentah,” demikian sumber internal klub mengutip pernyataan Alonso.
Henderson, yang pernah menjadi kapten Liverpool dan memenangi Liga Champions, diharapkan mengisi peran sebagai mentor. Thomas Tuchel, mantan pelatih Chelsea yang kini menukangi Timnas Inggris, menyebut Henderson sebagai “pemimpin alami” yang mampu menetapkan standar tinggi. Meski hanya bermain enam menit di Piala Dunia 2022, pengalaman internasionalnya dinilai vital untuk membimbing pemain muda seperti Cole Palmer atau Enzo Fernández.
Di sisi lain, Alex Scott menjadi simbol pergeseran strategi Chelsea: tetap memburu pemain muda, namun yang sudah teruji di Premier League. Gelandang Bournemouth itu mencatatkan 6,2 recovery bola per 90 menit—lebih tinggi dari 88% gelandang bertahan di lima liga top Eropa. Ia juga unggul dalam duel darat dan kontribusi defensif dibanding Henderson. Gol kemenangan Scott ke gawang Arsenal di Emirates April lalu menjadi bukti kemampuannya tampil di panggung besar.
Kedatangan Scott diproyeksikan menjadi inti lini tengah Chelsea untuk satu dekade ke depan. Dengan kemampuan mengatur tempo dari posisi deep-lying playmaker, ia bisa menjadi suksesor natural Jorginho yang hengkang tahun lalu. Sementara itu, Henderson akan menjadi opsi di bangku cadangan, mirip perannya di Timnas Inggris. Alonso dipercaya akan memutar kedua pemain tergantung lawan—Scott untuk pertandingan yang membutuhkan kreativitas, Henderson untuk duel fisik dan pengalaman.
Bagi pembaca di Indonesia, pergerakan Chelsea ini menarik dicermati karena klub tersebut memiliki basis penggemar besar di Tanah Air. Strategi transfer yang lebih matang bisa berdampak pada performa tim di Liga Champions, yang kerap disiarkan langsung di platform streaming lokal. Selain itu, keberhasilan Scott dan Henderson bisa menjadi tolok ukur bagi klub-klub Asia yang mulai mengadopsi pendekatan serupa: memadukan pemain senior dengan prospek muda.
Namun, tantangan terbesar Alonso adalah menjaga keseimbangan ruang ganti. Henderson, yang terbiasa menjadi kapten di Liverpool, harus rela menjadi pelapis. Scott, meski berbakat, belum terbukti konsisten di level tertinggi. Akankah Chelsea akhirnya menemukan formula juara setelah bertahun-tahun menjadi ‘pabrik pemain muda’? Atau justru perpaduan ini akan menimbulkan gesekan baru? Musim depan akan menjadi jawabannya.



