Rudal Rusia Hantam Kyiv, Dua Tewas – Ukraina Perkuat Serangan Drone ke Wilayah Musuh
Baca dalam 60 detik
- Serangan rudal balistik Rusia di Kyiv pada Minggu pagi menewaskan dua warga sipil dan melukai puluhan lainnya, memicu kebakaran di pemukiman dekat pusat kota.
- Keberhasilan serangan drone Ukraina ke infrastruktur energi Rusia memicu kelangkaan bahan bakar dan tekanan politik pada Kremlin, memperlambat laju ofensif Moskow.
- Putin memerintahkan angkatan laut untuk melindungi kapal tanker minyak yang disebutnya sebagai 'armada bayangan' dari upaya penyitaan asing, sementara NATO dan Romania menembak jatuh drone yang melanggar wilayah udara.

Serangan rudal balistik Rusia menghantam ibu kota Ukraina, Kyiv, pada Minggu (27/7) dini hari, menyebabkan dua warga sipil tewas dan puluhan lainnya luka-luka. Otoritas setempat melaporkan bahwa puing-puing rudal memicu kebakaran di sebuah gedung apartemen bertingkat di dekat pusat bersejarah Kyiv, serta merusak sejumlah kendaraan dan area parkir. Serangan ini merupakan bagian dari eskalasi terbaru yang saling balas antara Rusia dan Ukraina, yang telah berlangsung lebih dari empat tahun.
Kepala Administrasi Militer Kyiv, Vitali Klitschko, mengonfirmasi bahwa tiga orang dirawat di rumah sakit, satu di antaranya dalam kondisi serius. Sehari sebelumnya, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy telah memperingatkan bahwa intelijen menunjukkan Rusia sedang menyiapkan serangan besar-besaran dalam 48 jam ke depan. Klaim tersebut terbukti ketika Moskow meluncurkan rudal-rudal balistik yang menargetkan fasilitas produksi drone Ukraina, menurut pernyataan Kementerian Pertahanan Rusia.
Namun, Ukraina tidak tinggal diam. Dalam 24 jam terakhir, angkatan bersenjata Ukraina berhasil meluncurkan lebih dari 130 drone ke sasaran di Rusia, Laut Hitam, dan Semenanjung Krimea. Rusia mengklaim telah menembak jatuh 133 drone tersebut, namun serangan Ukraina dilaporkan telah melumpuhkan beberapa infrastruktur energi Rusia dan menyebabkan kelangkaan bahan bakar di beberapa wilayah. Keberhasilan ini disebut-sebut oleh Presiden Finlandia Alexander Stubb sebagai bukti bahwa posisi Ukraina kini lebih kuat dari sebelumnya sejak perang dimulai.
Di sisi lain, Presiden Rusia Vladimir Putin menggunakan momentum Hari Angkatan Laut Rusia, Minggu, untuk mengecam upaya Barat menyita kapal tanker minyak yang disebutnya sebagai 'armada bayangan'. Putin menyebut tindakan Inggris dan Prancis yang mencegat kapal-kapal tersebut sebagai 'pembajakan', dan memerintahkan Angkatan Laut Rusia untuk melindunginya sesuai hukum maritim internasional. Moscow selama ini mengandalkan armada ratusan kapal berbendera asing untuk mengekspor minyak meskipun dihadapkan pada sanksi ketat Barat. Sejak invasi penuh Rusia pada Februari 2022, Inggris dan Prancis telah beberapa kali menyita tanker yang diduga melanggar sanksi.
Bagi Indonesia, konflik ini memiliki dampak ganda. Di satu sisi, kenaikan harga energi global akibat sanksi terhadap minyak Rusia terus membebani anggaran subsidi BBM dan listrik dalam negeri. Di sisi lain, keberhasilan drone Ukraina mengganggu pasokan energi Rusia bisa memicu fluktuasi harga minyak dunia yang lebih tajam, yang berpotensi mempengaruhi stabilitas nilai tukar rupiah. Pemerintah Indonesia perlu mencermati dinamika ini, terutama dalam menyusun kebijakan energi jangka pendek.
Sementara itu, gelombang insiden drone juga meluas ke negara tetangga Ukraina. Romania, anggota NATO dan Uni Eropa, menembak jatuh drone mencurigakan untuk ketiga kalinya dalam tiga hari. Presiden Romania Nicusor Dan menyebut pelanggaran udara itu 'tidak bisa diterima dan tidak bisa ditoleransi'. NATO mengonfirmasi dua jet tempur F-16 Romania yang berada di bawah komando operasional aliansi diterbangkan dari pangkalan Fetesti untuk menghancurkan drone jenis Shahed—yang kerap digunakan Rusia—di atas Laut Hitam.
Eskalasi yang terus berlangsung ini membuat prospek gencatan senjata semakin suram. Serangan balasan yang semakin sofistikated dari kedua belah pihak hanya memperlebar jurang kepercayaan. Pertanyaan besarnya, akankah tekanan dari dalam negeri Rusia—akibat kelangkaan bahan bakar dan serangan drone—cukup kuat untuk memaksa Putin duduk di meja perundingan? Atau justru sebaliknya, respons keras Kremlin hanya akan memperpanjang penderitaan warga sipil di kedua sisi front?



