Diplomat Top Selandia Baru Dikecam Duta Besar China Usai Ucapan Rasis ke Anggota Parlemen Keturunan Tionghoa
Baca dalam 60 detik
- Menteri Luar Negeri Selandia Baru Winston Peters menyuruh anggota parlemen kelahiran China untuk 'kembali ke negara asal' saat debat soal vaksinasi Covid-19.
- Duta Besar China untuk Selandia Baru Wang Xiaolong mengecam pernyataan Peters, menyebutnya sebagai cerminan pribadi pembuat pernyataan.
- Insiden ini memicu kembali sorotan atas pola pernyataan rasis dari partai NZ First yang dikenal sebagai kingmaker dalam politik Selandia Baru.

Menteri Luar Negeri Selandia Baru Winston Peters memicu kontroversi diplomatik setelah melontarkan pernyataan bernada rasis kepada anggota parlemen keturunan Tionghoa, Lawrence Xu-Nan, dalam sebuah debat parlemen. Ucapan tersebut langsung mendapat respons keras dari Duta Besar China untuk Selandia Baru, Wang Xiaolong, yang jarang berkomentar soal politik domestik negara itu.
Insiden bermula saat Xu-Nan, politikus Partai Hijau yang lahir di Tianjin namun besar di Auckland, bertanya kepada Peters apakah ia sudah divaksinasi Covid-19. Peters, yang juga pemimpin partai populis NZ First, menjawab dengan nada sinis: "Kau baru datang lima menit yang lalu. Kembali ke negaramu sendiri. Di sana mereka berbohong seperti ikan pipih, tapi tidak di sini." Ia menambahkan, "Ini yang disebut demokrasi, tidak seperti yang biasa kau alami. Kembali ke tempat asalmu, mulut besar."
Pernyataan Peters sontak menuai kecaman luas. Wang Xiaolong, dalam unggahan di platform X pada Kamis (30/7), mengatakan bahwa meskipun ia enggan campur tangan politik domestik, "cukuplah dikatakan, kadang sebuah pernyataan lebih banyak berbicara tentang orang yang membuatnya daripada apa pun atau siapa pun." Peters membalas dengan nada defensif, menyebut komentar Wang justru membuktikan maksudnya. "Kami hidup dalam demokrasi yang mencakup kebebasan berbicara dan hak-hak—dua nilai yang tidak hanya dibatasi oleh negara-negara tertentu, tetapi juga ditegakkan dengan kekerasan," tulis Peters. Ia menambahkan, "Jika itu menyinggung para penjaga moral dan antek komunis yang menyebutnya 'berbahaya'—selamat datang di Selandia Baru."
Ini bukan pertama kalinya Peters dan partainya—yang dikenal sebagai penentu dalam politik Selandia Baru yang terfragmentasi—menuai kritik atas pernyataan rasis. Awal tahun ini, deputi Peters, Shane Jones, mengkritik perjanjian perdagangan bebas dengan India dengan menyebutnya berisiko menimbulkan "tsunami ayam mentega". Tahun lalu, Peters dan Jones terpaksa mundur setelah Jones berteriak "kirim orang Meksiko pulang" kepada anggota parlemen kelahiran Meksiko, Francisco Hernandez. Peters kemudian menambahkan dengan menyuruh Hernandez dan Xu-Nan untuk "menunjukkan rasa terima kasih" karena berada di Selandia Baru.
Bagi Indonesia, insiden ini menjadi pengingat bahwa sentimen anti-imigran dan isu rasial masih menjadi tantangan di negara-negara demokrasi maju. Meskipun Selandia Baru dikenal sebagai negara multikultural, pernyataan Peters menunjukkan bahwa politik identitas dan xenofobia masih bisa muncul ke permukaan, terutama saat isu seperti imigrasi dan pandemi menjadi perdebatan hangat. Indonesia, yang memiliki diaspora signifikan di Selandia Baru, perlu mencermati bagaimana dinamika ini dapat memengaruhi hubungan bilateral dan persepsi terhadap warga negara Indonesia di luar negeri.
Ke depan, tekanan terhadap Peters dan partainya diperkirakan akan meningkat, terutama dari komunitas diaspora dan kelompok hak asasi manusia. Pertanyaan besarnya adalah apakah insiden ini akan mendorong perubahan kebijakan atau sekadar menjadi catatan lain dalam sejarah panjang kontroversi Peters. Sementara itu, hubungan diplomatik Selandia Baru-China, yang selama ini relatif stabil, mungkin akan menghadapi ujian baru akibat pernyataan yang dianggap menghina warga keturunan Tionghoa.



