Menteri Pendidikan India Mundur, Protes Mahasiswa Gen Z Tunjukkan Kekuatan Baru
Baca dalam 60 detik
- Menteri Pendidikan India mundur setelah protes mahasiswa terkait kebocoran soal ujian NEET.
- Aksi yang digerakkan generasi Z melalui Instagram ini menyoroti kegagalan pemerintah dalam memahami bahasa kaum muda.
- Meski ada kemenangan, pengangguran dan kualitas pendidikan masih menjadi bom waktu bagi demokrasi India.

Setelah lebih dari sepuluh tahun pemerintahan Narendra Modi, baru kali ini seorang menteri kabinet mengundurkan diri akibat tekanan jalanan: Menteri Pendidikan Dharmendra Pradhan. Keputusan itu diambil menyusul aksi protes mahasiswa yang berlangsung lebih dari sepekan, dipicu oleh kebocoran soal ujian masuk kedokteran nasional, NEET, yang memaksa hampir dua juta siswa mengikuti ujian ulang.
Bagi banyak anak muda India, langkah Pradhan menjadi bukti bahwa suara mereka bisa mengguncang kekuasaan. “Untuk pertama kalinya, saya merasa protes bisa membuahkan hasil,” ujar Sakhi, aktivis mahasiswa di Delhi. Di media sosial, video lama seorang menteri senior yang menyombongkan bahwa “pengunduran diri tidak terjadi di pemerintahan kami” menjadi viral, ironi yang manis bagi para pengunjuk rasa.
Protes yang awalnya bergerak lambat mulai meledak setelah polisi Delhi secara paksa membubarkan aksi mogok makan pendidik Sonam Wangchuk pada 18 Juli. Dua hari kemudian, puluhan ribu mahasiswa memadati kawasan parlemen. Pemukulan, gas air mata, dan tembakan peluru karet terekam kamera ponsel dan menyebar luas. Alih-alih meredam, tindakan keras itu justru memicu gelombang simpati yang lebih besar.
Yang menarik, gerakan ini digerakkan oleh Partai Kecoa Joker (CJP), sebuah kampanye satir yang muncul setelah seorang hakim agung India menyamakan pengangguran dengan kecoa. Mereka menuntut reformasi pendidikan dan kompensasi bagi keluarga korban bunuh diri akibat skandal NEET — lebih dari 20 siswa dilaporkan meninggal karena depresi pasca-pengumuman ujian bocor.
“Pemerintah terlalu mengandalkan media mainstream, Facebook, dan WhatsApp, tetapi mereka melupakan Instagram,” kata Sakhi. Generasi Z India, yang akrab dengan bahasa meme dan video pendek, berhasil mengubah opini publik dalam hitungan hari. Salah satu unggahan yang paling viral memperlihatkan seorang polisi mengancam akan memfitnah demonstran dengan kasus narkoba. Video itu ditonton 10 juta kali.
Fenomena serupa sebenarnya juga bergema di Indonesia. Angka pengangguran lulusan perguruan tinggi yang tinggi, sistem pendidikan yang dianggap kurang relevan dengan dunia kerja, serta ketimpangan akses menjadi keluhan yang kerap disuarakan. Meski belum ada protes sebesar di India, gelombang kritisisme di media sosial menunjukkan potensi yang sama. “Di Indonesia, anak muda juga mulai sadar bahwa demonstrasi fisik bukan satu-satunya alat; media sosial bisa menjadi pengganda kekuatan,” ujar pengamat politik dari Universitas Indonesia, Andi Maulana.
Namun, ada sisi lain yang patut diwaspadai. Varuni Poorva, aktivis dari Patna, mengaku harus mengajukan jaminan pra-penangkapan setelah polisi menetapkan puluhan demonstran sebagai tersangka. Human Rights Watch mencatat bahwa di bawah Modi, aparat sering memakai undang-undang terorisme dan ujaran kebencian untuk membungkam kritik. “Pemerintah berjanji tidak akan membalas, tapi kami tetap waspada,” ujarnya.
Terlepas dari itu, momentum ini diyakini tidak akan surut. “Ini baru awal,” seru Somaya Korde, mahasiswa hukum yang sempat ditahan. “Kami akan terus bicara soal pengangguran, privatisasi pendidikan, dan akuntabilitas pemerintah.” Sebuah grafiti di Delhi menulis: “Kami tidak punya pekerjaan. Jika Anda menghapus ini, kami akan kembali besok.”
Pertanyaannya, akankah pemerintah Modi benar-benar mendengar suara kaum mudanya? Atau justru akan semakin represif? Satu hal yang jelas: generasi Z India telah menemukan kekuatan mereka di jalanan dan di linimasa.



