Jamie Gittens Targetkan Kebangkitan Bersama Alonso: ‘Saya Ingin Tunjukkan Kemampuan’
Baca dalam 60 detik
- Gittens mengaku telah mendapat tempat di skuad utama Chelsea musim depan dan mendapat arahan langsung dari Xabi Alonso untuk terus agresif menyerang.
- Pemain sayap 21 tahun itu harus membuktikan diri setelah musim perdana yang kurang impresif, diperparah cedera hamstring yang menganggu paruh kedua musim.
- Chelsea yang finis di peringkat 10 Liga Inggris musim lalu berharap rekrutan termahal mereka, Morgan Rogers, bisa memacu persaingan internal dan mengembalikan ambisi juara.

Winger Chelsea, Jamie Gittens, menegaskan bahwa ia termasuk dalam rencana utama pelatih baru Xabi Alonso untuk musim depan. Pemain berusia 21 tahun itu mengaku mendapat instruksi spesifik agar terus bermain ofensif dan percaya diri membawa bola ke pertahanan lawan, sebuah pendekatan yang sangat berbeda dari musim perdananya yang penuh tekanan. Gittens, yang didatangkan dari Borussia Dortmund dengan nilai transfer awal 48 juta pound sterling, hanya mampu mencatatkan 18 penampilan di semua kompetisi dan belum menunjukkan konsistensi yang diharapkan.
Dalam sesi wawancara di pusat latihan Chelsea, Gittens menyebut Alonso sebagai salah satu gelandang terbaik sepanjang masa yang wajar dihormati oleh skuad. Ia juga mengingat pengalaman saat membela Dortmund menghadapi Bayer Leverkusen racikan Alonso, yang dinilainya sebagai tim paling solid di Jerman—Leverkusen sukses meraih gelar Bundesliga dan Piala DFB pada musim penuh pertama Alonso. “Mereka benar-benar sebuah tim,” ujar Gittens, merujuk pada kohesi yang justru menjadi kelemahan utama Chelsea musim lalu.
Ketidakseimbangan skuad dan kurangnya chemistry menghantui perjalanan Chelsea hingga finis di peringkat 10 Liga Inggris—terburuk dalam dua dekade terakhir—serta gagal lolos ke kompetisi Eropa. Manajemen pun merespons dengan mengganti pelatih dan menggelontorkan dana besar di bursa transfer, termasuk memecahkan rekor transfer domestik Inggris dengan mendatangkan Morgan Rogers seharga 117 juta pound. Gittens, yang sempat satu akademi dengan Rogers di Manchester City, yakin kehadiran gelandang serang itu akan meningkatkan standar kompetisi internal.
Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, Premier League tetap menjadi liga asing dengan basis penggemar terbesar. Chelsea memiliki komunitas fanatik yang menanti kebangkitan tim setelah musim kelam. Peran Alonso—yang namanya mulai dikenal publik Indonesia sejak sukses di Leverkusen—juga menjadi sorotan: apakah gaya kepelatihan pragmatis namun agresifnya bisa mengubah budaya tim yang sempat kehilangan identitas. Gittens, dengan potensi kecepatan dan kelincahannya, bisa menjadi salah satu kunci kebangkitan itu jika mampu terhindar dari cedera.
Cedera hamstring yang diderita sejak Januari memaksa Gittens menepi di sisa musim lalu, namun ia mengaku kondisi fisiknya sudah mendekati prima. “Ini cedera otot pertama dalam karier saya, jadi proses pemulihannya memang butuh waktu. Saya merasa jauh lebih baik sekarang,” katanya. Gittens telah mencetak gol dalam dua laga uji coba tertutup melawan Crawley dan Bromley, sebagai bagian dari program pramusim yang dirancang Alonso.
Ketika ditanya apakah ia sudah mendapat jaminan tempat di tim inti, Gittens mengangguk dan menambahkan, “Dia (Alonso) hanya ingin saya tetap positif, terus menggiring bola, menciptakan peluang, dan mendorong diri saya maksimal.” Penegasan ini sekaligus menjawab keraguan publik setelah penampilan Gittens yang pasang surut musim lalu. Pemain internasional junior Inggris itu sadar bahwa musim kedua menjadi titik penentuan kariernya di Stamford Bridge.
Langkah Chelsea mendatangkan Alonso diharapkan tidak hanya memperbaiki taktik, tetapi juga etos kerja tim. Gittens mencontohkan semangat kolektif Leverkusen yang pernah ia hadapi: “Mereka benar-benar menunjukkan kesatuan sebagai tim.” Pertanyaannya, bisakah filosofi Alonso menular ke skuad Chelsea yang dalam dua musim terakhir sering tampil individualistis? Suara-suara optimis mulai terdengar, tetapi bukti di lapangan masih harus ditunggu.



