Keputusan Sepihak Malagò: Klub Serie A Murka Mancini Jadi Pelatih Italia
Baca dalam 60 detik
- Roberto Mancini resmi ditunjuk sebagai pelatih baru Timnas Italia, namun langkah itu memicu kekecewaan di kalangan klub Serie A yang merasa tidak dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan.
- Klub-klub Serie A sebelumnya lebih mendukung Antonio Conte dan siap membantu membayar sebagian gajinya, tetapi FIGC dianggap mengabaikan aspirasi mereka demi hubungan personal antara Presiden FIGC Giovanni Malagò dan Mancini.
- Ketegangan ini berpotensi menghambat reformasi sepak bola Italia yang direncanakan, mengingat hubungan antara federasi dan liga sedang merenggang.

Penunjukan Roberto Mancini sebagai pelatih baru Timnas Italia oleh Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) justru menyulut kemarahan klub-klub Serie A. Mereka tidak hanya kecewa karena pilihan jatuh pada Mancini, tetapi juga karena proses pengambilan keputusan yang dinilai sepihak dan mengabaikan masukan dari liga.
Menurut laporan media Italia seperti Corriere della Sera, Tuttosport, dan Gazzetta dello Sport, sebagian besar presiden klub Serie A sebelumnya menginginkan Antonio Conte sebagai nahkoda timnas. Bahkan, mereka disebut siap untuk berkontribusi secara finansial guna menutupi sebagian gaji Conte. Namun, niat itu kandas setelah Presiden FIGC Giovanni Malagò bergerak cepat dan memilih Mancini tanpa berkonsultasi dengan perwakilan liga.
Kekecewaan ini diperparah oleh fakta bahwa klub-klub Serie A sebelumnya menjadi pendukung utama terpilihnya Malagò sebagai presiden FIGC pada 22 Juni lalu, mengalahkan Giancarlo Abete. Mereka berharap dukungan itu akan berbuah timbal balik berupa keterlibatan dalam keputusan besar seperti pemilihan pelatih timnas. Namun, harapan itu pupus ketika keputusan akhir justru diumumkan secara unilateral.
Hubungan dekat antara Malagò dan Mancini dinilai menjadi faktor kunci dalam keputusan ini. Representasi klub Serie A, melalui Presiden Lega Serie A Ezio Maria Simonelli, menyuarakan kekeberatan dalam Sidang Federal FIGC. Mereka menegaskan bahwa setiap komponen federasi semestinya didengar sebelum keputusan final diambil. Namun, Malagò membalas dengan argumen bahwa tidak ada waktu lagi untuk berdiskusi panjang setelah kekisruhan Andrea Pirlo serta pengunduran diri Paolo Maldini dan Leonardo.
Di tengah perpecahan ini, Serie A akhirnya mengeluarkan pernyataan resmi yang menyambut kedatangan Mancini dan direktur teknis Claudio Ranieri. Pernyataan itu menyerukan persatuan dan semangat kerja sama ke depan. Namun, media Italia meragukan ketulusan pernyataan tersebut. Corriere della Sera menulis, 'Lihat saja berapa lama ini akan bertahan,' sementara Tuttosport di halaman depannya mempertanyakan, 'Siapa yang tahu bagaimana mereka akan duduk bersama untuk reformasi?'
Dalam konteks sepak bola Indonesia, situasi ini mengingatkan pada dinamika serupa antara PSSI dan klub-klub Liga 1. Proses pemilihan pelatih timnas yang kerap diwarnai tarik-menarik kepentingan dan kurangnya transparansi juga pernah terjadi di Indonesia. Jika Italia—sebagai negara dengan tradisi sepak bola yang kuat—gagal menyelaraskan kepentingan federasi dan liga, dampaknya bisa menggerogoti kualitas timnas dan kompetisi domestik. Bagi Indonesia, pelajaran yang bisa diambil adalah pentingnya komunikasi dan keterlibatan semua pemangku kepentingan dalam setiap keputusan besar, agar tidak terjadi perpecahan serupa.
Ke depan, tantangan Mancini tidak hanya membangun kembali skuad Italia yang sempat terpuruk, tetapi juga harus meredakan ketegangan dengan klub-klub Serie A. Tanpa dukungan penuh dari klub, program pemusatan latihan, pemanggilan pemain, dan bahkan jadwal pertandingan bisa menjadi sumber gesekan baru. Apakah hubungan antara FIGC dan Lega Serie A akan membaik, atau justru memperburuk reformasi yang direncanakan? Semua tergantung pada langkah pertama Mancini dan kebijakan Malagò ke depannya.



