Figc Tunjuk Mancini dan Ranieri, Serie A Kecewa; Infantino Siap Jual Saham Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) menunjuk Roberto Mancini sebagai pelatih dan Claudio Ranieri sebagai direktur teknis dengan kontrak hingga 2030, mengecewakan klub Serie A yang menginginkan Antonio Conte.
- Presiden FIGC, Giovanni Malagò, membela keputusannya dan mengungkapkan alasan memblokir Pirlo karena sponsor Rusia, serta mengakui perpisahan dengan Maldini dan Leao sebagai langkah tepat.
- Presiden FIFA, Gianni Infantino, berencana menjual 20% saham organisasi kepada investor swasta untuk menggelar Piala Dunia setiap dua tahun, memicu ketegangan dengan UEFA dan kekhawatiran akan komersialisasi berlebihan.

Peta kekuatan sepak bola Italia mengalami goncangan besar setelah Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) secara resmi menunjuk Roberto Mancini sebagai pelatih tim nasional dan Claudio Ranieri sebagai direktur teknis, keputusan yang langsung menuai kritik dari klub-klub Serie A yang lebih menginginkan Antonio Conte. Sementara itu, di panggung global, Presiden FIFA Gianni Infantino dikabarkan siap menjual 20 persen saham organisasi kepada investor swasta demi mewujudkan Piala Dunia yang digelar setiap dua tahun, sebuah langkah yang memicu benturan dengan UEFA.
Penunjukan Mancini dan Ranieri diumumkan oleh Presiden FIGC, Giovanni Malagò, dalam konferensi pers di markas federasi. Mancini, yang sebelumnya menangani timnas Italia hingga 2023, kini menandatangani kontrak berdurasi hingga 2030 dengan dua misi utama: lolos ke Piala Dunia dan meraih gelar Euro. Ranieri, legenda yang membawa Leicester City juara Premier League, akan mendampingi sebagai direktur teknis. “Roberto adalah orang yang tepat. Saya telah merenungkan tentang tawaran dari Arab Saudi,” ujar Malagò, merujuk pada tawaran melatih yang sempat diterima Mancini.
Keputusan ini memicu ketegangan dengan Lega Serie A, yang menginginkan Conte sebagai pelatih. “Suasana sangat tegang, kali ini mereka tidak bisa melawan,” tulis laporan dari Football Italia. Malagò juga mengungkapkan bahwa ia memblokir Andrea Pirlo karena keterkaitannya dengan sponsor Rusia, serta menyebut perpisahan dengan Paolo Maldini dan Rafael Leao sebagai langkah yang tepat. “Saya percaya pada takdir,” tambahnya. Sementara itu, Gianluca Vialli dikabarkan akan masuk ke tim pengembangan pemain muda.
Di sisi lain, dunia sepak bola global dihebohkan dengan rencana kontroversial Presiden FIFA Gianni Infantino. Menurut laporan, Infantino siap menjual 20 persen saham FIFA kepada investor swasta yang mendukung visinya menggelar Piala Dunia setiap dua tahun. Langkah ini langsung mendapat tentangan keras dari UEFA, yang menyatakan, “Sepak bola bukan milik Anda.” Investor pertama disebut sebagai kerabat dekat presiden Amerika Serikat, menambah dimensi politik dalam rencana tersebut. Para kritikus menilai langkah ini akan mengubah Piala Dunia menjadi ajang komersial murni dan mengancam kalender sepak bola tradisional.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi langsung. Sebagai negara dengan basis penggemar sepak bola yang besar, Indonesia kerap menjadi pasar potensial bagi FIFA. Jika Piala Dunia digelar setiap dua tahun, peluang Indonesia untuk menjadi tuan rumah atau setidaknya terlibat dalam kualifikasi bisa meningkat. Namun, kekhawatiran akan terlalu padatnya jadwal internasional juga perlu dipertimbangkan, mengingat Liga Indonesia dan tim nasional sudah kerap berbenturan dengan agenda FIFA. Selain itu, kepemimpinan baru di FIGC bisa menjadi contoh bagi Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) dalam mengelola transisi pelatih dan struktur teknis.
Dalam jangka pendek, FIGC harus meredam ketidakpuasan klub-klub Serie A yang merasa dikesampingkan. Sementara itu, duel antara Infantino dan UEFA tentang masa depan Piala Dunia diperkirakan akan memanas menjelang Kongres FIFA. Pertanyaan besarnya: akankah komersialisasi sepak bola global mengorbankan semangat olahraga yang selama ini dijaga?



