Rusia Minta Tambahan 30.000 Tentara Korut, Zelensky Sebut Ancaman bagi Seluruh Asia
Baca dalam 60 detik
- Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengungkapkan bahwa Rusia tengah menyiapkan kedatangan 30.000 tentara Korea Utara dan peluncur rudal balistik di wilayah perbatasan Ukraina.
- Sejak 2024, Pyongyang telah mengirim ribuan prajurit untuk membantu Moskow, dan sekitar 2.000 di antaranya tewas dalam pertempuran menurut data intelijen Korea Selatan.
- Kerja sama militer yang semakin erat ini tidak hanya memperpanjang perang Ukraina, tetapi juga meningkatkan kemampuan rudal Korea Utara yang mengancam stabilitas Asia, termasuk Indonesia.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky secara terbuka membeberkan bahwa Rusia tengah mempersiapkan penerimaan 30.000 tentara tambahan dari Korea Utara beserta sejumlah peluncur rudal balistik di wilayah Voronezh, tepat di perbatasan dengan Ukraina. Langkah ini, menurut Zelensky, tidak hanya membahayakan Ukraina, tetapi juga seluruh kawasan Asia yang berada dalam jangkauan misil Pyongyang.
Dalam unggahan di platform X pada Sabtu malam (25/7), Zelensky menyatakan bahwa persiapan logistik untuk kedatangan pasukan baru tersebut sudah dimulai sejak Juni. Ini merupakan gelombang kedua pengiriman personel militer Korea Utara ke Rusia setelah sebelumnya ribuan prajurit dikerahkan untuk membantu menghalau serangan balik Ukraina di wilayah Kursk pada tahun 2024. Menurut estimasi Korea Selatan, setidaknya 2.000 tentara Korea Utara telah tewas dalam misi pertama itu.
Zelensky menambahkan bahwa selain pasukan, Korea Utara juga akan mengirimkan tambahan peluncur rudal balistik ke Rusia. Ia memperingatkan bahwa Moskow secara tidak langsung membantu Pyongyang mengasah kemampuan tempur, meningkatkan kualitas persenjataan, dan memperoleh pengalaman perang nyata. โSemua ini adalah ancaman bagi siapa pun di Asia yang berada dalam jangkauan rudal Korea Utara,โ tegasnya.
Konteks bagi Indonesia tidak bisa diabaikan. Sebagai negara di kawasan Asia Tenggara, Indonesia berada dalam radius jangkauan rudal jarak menengah Korea Utara yang terus dikembangkan. Aliansi militer antara Rusia dan Korea Utara yang semakin solid berpotensi memicu perlombaan senjata di Asia. Lebih jauh, ketidakstabilan geopolitik akibat perang Ukraina yang melibatkan pasukan asing juga dapat mengganggu rantai pasok global dan keamanan maritim di Selat Malaka maupun Laut China Selatan.
Hubungan Moskow-Pyongyang semakin erat setelah keduanya menandatangani pakta bantuan militer pada 2024. Pekan ini, Menteri Luar Negeri Korea Utara Choe Son Hui berkunjung ke Moskow dan menegaskan kembali dukungan penuh Pyongyang terhadap kebijakan Rusia di Ukraina. Kantor berita KCNA melaporkan bahwa Korea Utara menyatakan โdukungan yang tak berubahโ untuk semua kebijakan dalam dan luar negeri Rusia demi menghilangkan akar penyebab konflik Ukraina. Sementara itu, Presiden Rusia Vladimir Putin menyampaikan โrasa terima kasihโ kepada Korea Utara melalui video yang dirilis menjelang kunjungan Choe.
Sebagai imbalan atas bantuan militernya, Korea Utara menerima pasokan uang tunai, transfer teknologi militer, serta komoditas pangan dan energi. Bantuan tersebut menjadi jalur hidup bagi Pyongyang yang selama ini terisolasi akibat sanksi internasional atas program nuklirnya. Analis keamanan internasional menilai, kerja sama ini tidak hanya memperpanjang perang Ukraina, tetapi juga memberikan Korea Utara kesempatan untuk memodernisasi persenjataan dan memperkuat posisi tawarnya di kawasan.
Ke depan, penambahan 30.000 tentara dan rudal balistik Korea Utara berpotensi mengubah dinamika pertempuran di Ukraina sekaligus meningkatkan ketegangan di Asia. Negara-negara tetangga, termasuk Indonesia, perlu mewaspadai dampak dari aliansi militer yang semakin erat ini. Akankah komunitas internasional mampu merespons secara kolektif sebelum ancaman rudal Korea Utara benar-benar meluas?



