Banjir Besar Landa Punjab: Dua Sungai Utama Di Ambang Level Tinggi
Baca dalam 60 detik
- Luapan Sungai Ravi dan Chenab di Pakistan merendam hampir 400 km² lahan pertanian dan pemukiman.
- Debit air Ravi melonjak dari 22.000 menjadi 87.000 cusecs dalam waktu singkat, menandakan sistem drainase kewalahan.
- Pemerintah setempat meningkatkan kewaspadaan dan mendirikan kamp evakuasi, sementara hujan diperkirakan masih berlanjut.

Luapan Sungai Ravi dan Chenab di Punjab, Pakistan, telah merendam hampir 400 kilometer persegi lahan dan mengancam meluas dalam 24 jam ke depan, memicu krisis kemanusiaan dan kerugian ekonomi besar di salah satu lumbung pangan negara tersebut.
Menurut pejabat senior Dinas Irigasi Punjab yang enggan disebut namanya, area terdampak meliputi Sheikhupura, Muridke, Gujranwala, Narowal, Sambrial, dan Pasrur—semua berada di divisi Lahore dan Gujranwala. “Situasi saat ini mirip laut pedalaman karena hamparan air banjir yang sangat luas,” ujarnya kepada media setempat, Sabtu (26/7). Ia menyebut banjir kali ini belum pernah terjadi sebelumnya selama musim hujan tahun ini dan sangat menantang penanganannya.
Kerusakan parah dilaporkan pada tanaman padi, jagung, dan sayuran yang baru ditanam, serta ternak dan infrastruktur jalan dan irigasi. Pemerintah daerah telah mempercepat tindakan darurat dan mendirikan kamp-kamp pengungsian di beberapa wilayah. Pejabat tersebut memperkirakan butuh tiga hingga empat hari lagi agar situasi kembali normal, asalkan tidak ada hujan susulan.
Divisi Prakiraan Banjir dari Departemen Meteorologi Pakistan melaporkan bahwa Chenab saat ini berada di level banjir sedang, sementara Ravi di level rendah. Namun, dalam 24 jam ke depan, kedua sungai diperkirakan naik ke level sedang-tinggi. Kondisi serupa diramalkan terjadi di Chenab pada Marala, Khanki, dan Qadirabad, serta Ravi di Balloki (Kasur) dan Sidhnai (Khanewal). Indus, Kabul, dan anak sungai lainnya masih dalam kisaran normal.
Fenomena lonjakan debit yang tidak biasa menjadi perhatian utama. “Biasanya aliran Ravi menurun saat mencapai Balloki, tetapi kali ini justru meningkat,” kata pejabat tersebut. Tambahan 65.000 cusecs itu berasal dari air drainase dan curah hujan yang membanjiri sungai. Hal ini mengindikasikan kapasitas drainase perkotaan dan pertanian sudah jauh melebihi desainnya.
Relevansi bagi Indonesia: Peristiwa ini menjadi pengingat bagi Indonesia, yang juga menghadapi risiko banjir besar akibat kombinasi hujan ekstrem, alih fungsi lahan, dan sistem drainase yang tidak memadai. Daerah aliran sungai (DAS) seperti Ciliwung, Bengawan Solo, dan Musi kerap menghadapi lonjakan debit serupa. Menurut analis kebencanaan dari Universitas Indonesia, pengalaman Pakistan menunjukkan pentingnya investasi pada sistem peringatan dini, normalisasi sungai, dan pengelolaan daerah tangkapan air. Tanpa itu, kerugian ekonomi dan korban jiwa sulit ditekan.
Pemerintah Punjab telah menempatkan wakil komisaris di enam distrik dalam status siaga tinggi. Mereka diperintahkan memperkuat pemantauan dan kesiapsiagaan banjir. Wakil Komisaris Lahore, misalnya, langsung meninjau area drainase Hudiara dan memantau aliran air hujan. Komisaris Lahore mengunjungi Nankana Sahib untuk mengevaluasi erosi sungai dan langkah evakuasi. Sementara itu, Wakil Komisaris Khanewal, Hena Arshad, mengecek tanggul dan lokasi pekerjaan proteksi banjir di Sidhnai.
Menyusul prakiraan hujan pada Minggu (27/7), otoritas setempat bergegas membersihkan endapan lumpur dan hambatan di sepanjang Nullah Dek. Belum ada korban jiwa dilaporkan, tetapi ancaman masih nyata. Pertanyaan kuncinya: mampukah langkah darurat ini menahan laju air jika hujan terus mengguyur? Ataukah ini pertanda bahwa perubahan iklim telah membuat siklus banjir tahunan semakin tidak terduga? Jawabannya akan menentukan nasib jutaan petani dan warga Punjab dalam pekan-pekan mendatang.



