Pencarian 23 Korban Kapal Vietnam di Laut China Selatan: Operasi Penyelamatan di Tengah Sengketa Wilayah
Baca dalam 60 detik
- Kapal kargo Vietnam Khoi Nguyen 18 tenggelam di dekat Fiery Cross Reef Sabtu lalu; 39 dari 62 awak berhasil diselamatkan.
- Enam kapal China dan satu helikopter bersama kapal Vietnam dikerahkan untuk mencari 23 orang yang masih hilang.
- Insiden ini terjadi di kawasan sengketa Laut China Selatan, menyoroti risiko pelayaran di jalur yang padat dan diperebutkan.

Operasi pencarian terhadap 23 awak kapal Vietnam yang hilang setelah kapal kargo Khoi Nguyen 18 tenggelam terus berlangsung di Laut China Selatan, Minggu (26/7). Kapal berbendera Vietnam itu dilaporkan mengalami marabahaya di perairan dekat Fiery Cross Reef, salah satu titik sengketa di Kepulauan Spratly, Sabtu malam. Dari 62 orang yang berada di atas kapal, 39 telah berhasil dievakuasi ke kapal penyelamat China, sementara sisanya masih dalam pencarian.
Menurut laporan CCTV, stasiun televisi pemerintah China, sinyal darurat dari kapal pertama kali terdeteksi oleh kapal penyelamat China Nanhai Jiu 115. Tim penyelamat China mengerahkan enam kapal dan satu helikopter, sementara Vietnam turut mengirimkan satu kapal untuk membantu. Kapal Khoi Nguyen 18 berukuran panjang sekitar 70 meter dengan bobot 999 ton, dan seluruh krunya adalah warga negara Vietnam.
Wilayah Fiery Cross Reef merupakan bagian dari Kepulauan Spratly yang hingga kini masih menjadi rebutan antara China dan Vietnam, serta sejumlah negara tetangga seperti Filipina, Malaysia, Brunei, dan Taiwan. China telah membangun landasan pacu dan pulau-pulau buatan di kawasan tersebut, memperkuat klaim kedaulatannya yang tumpang tindih dengan negara-negara lain. Kejadian ini menjadi pengingat akan risiko tinggi yang dihadapi pelayaran niaga di salah satu jalur laut tersibuk dan paling dipolitisasi di dunia.
Bagi Indonesia, insiden ini relevan mengingat posisinya sebagai salah satu negara yang juga memiliki klaim di Laut China Selatan, khususnya di perairan Natuna. Meskipun Natuna bukan bagian dari Spratly, aktivitas militer dan pelayaran China di kawasan tersebut kerap memicu ketegangan. Menurut pengamat maritim dari Universitas Indonesia, operasi penyelamatan yang melibatkan China menunjukkan dominasi Beijing dalam mengatur lalu lintas di laut sengketa, sekaligus membuka peluang kerja sama kemanusiaan yang bisa meredakan ketegangan.
โKeberhasilan penyelamatan 39 awak kapal menunjukkan kapasitas respons China di Laut China Selatan, namun status pencarian 23 orang lainnya masih menjadi perhatian. Kasus ini juga mengingatkan pentingnya protokol keselamatan pelayaran di kawasan yang rawan konflik,โ ujar seorang analis keselamatan maritim yang tidak ingin disebutkan namanya.
Pencarian terus berlanjut dengan menyisir perairan di sekitar Fiery Cross Reef. Cuaca di lokasi dilaporkan relatif bersahabat, memberikan harapan bagi tim penyelamat untuk menemukan korban selamat. Namun, ketidakjelasan batas wilayah dan klaim berlapis di kawasan ini sering kali mempersulit koordinasi lintas batas dalam situasi darurat. Pertanyaannya, apakah insiden ini akan membuka ruang dialog yang lebih konkret antar negara untuk meningkatkan keamanan pelayaran, atau justru menjadi sumber ketegangan baru di Laut China Selatan?



