Johnny Borrell Bercanda Soal 'Stigmata' Akibat Konsumsi Narkoba Berlebihan
Baca dalam 60 detik
- Vokalis Razorlight, Johnny Borrell, mengklaim pernah mengalami luka misterius yang ia sebut stigmata, diduga akibat penggunaan ekstasi.
- Pernyataan itu muncul saat wawancara jelang tur peringatan 20 tahun album kedua band rock asal Inggris tersebut.
- Tur November mendatang akan mempertemukan kembali empat anggota klasik Razorlight untuk membawakan album 'Razorlight' secara penuh.

Vokalis Razorlight, Johnny Borrell, membuat pengakuan tak biasa: ia pernah mengalami luka stigmata—dan bercanda bahwa kemungkinan penyebabnya adalah konsumsi narkoba yang berlebihan. Dalam perbincangan dengan drummer Andy Burrows, Borrell mengenang momen aneh dari era awal band asal Inggris itu, yang kini tengah bersiap merayakan dua dekade album kedua mereka.
Stigmata merujuk pada luka atau pendarahan mendadak tanpa penjelasan yang menyerupai luka penyaliban Yesus Kristus. Menurut Borrell, saat ia bertanya kepada dokter tentang luka misterius yang muncul di tubuhnya, sang dokter hanya menjawab, 'Mungkin karena ekstasi.' Borrell menggambarkan luka itu tumbuh melingkar, dan ia tetap bersikeras bahwa peristiwa itu benar-benar terjadi—meski diakuinya tak ada penjelasan ilmiah pasti.
Kisah ini muncul di tengah promosi tur peringatan 20 tahun album kedua Razorlight yang berjudul sama, 'Razorlight' (2006). Album yang diproduseri oleh legenda studio Chris Thomas—yang pernah bekerja dengan The Beatles, Pink Floyd, dan Sex Pistols—itu akan dibawakan secara utuh dalam tur November mendatang. Empat anggota klasik Razorlight—Borrell, Burrows, Björn Ågren, dan Carl Dalemo—akan kembali bersatu untuk pertama kalinya dalam formasi asli.
Mendengarkan ulang album tersebut, Borrell mengaku kini merasa lebih santai. 'Menurutku itu lumayan bagus. Tidak jelek,' ujarnya, seraya menambahkan bahwa ia kini melihat tempat album itu dalam katalog rock 'n' roll. Ia memuji jejak sonik khas Chris Thomas yang membentuk suara Razorlight. Sementara itu, Burrows menyebut album itu sebagai 'usaha yang baik.'
Bagi pendengar di Indonesia, Razorlight mungkin bukan nama asing. Album-album mereka, terutama 'Razorlight' dengan lagu-lagu seperti 'Who Needs Love?' dan 'In the Morning,' sempat menjadi soundtrack akhir 2000-an bagi penggemar indie rock Tanah Air. Tur peringatan ini bisa menjadi nostalgia tersendiri, meski belum ada rencana konser di Asia. Namun, formasi asli yang bersatu kembali kerap menjadi daya tarik bagi kolektor dan penggemar setia.
Pernyataan Borrell soal stigmata dan narkoba, meski disampaikan dengan nada bercanda, kembali mengingatkan pada gaya hidup 'rock star' yang identik dengan ekses. Namun, ia sendiri kini tampak lebih reflektif. Tur ini akan menjadi panggung bagi Razorlight untuk menunjukkan bahwa dua dekade tidak memudarkan energi mereka—atau mungkin justru membuat luka lama menjadi cerita yang bisa ditertawakan. Akankah kisah stigmata itu juga dibawa ke atas panggung? Hanya waktu yang bisa menjawab.



