Masturbasi Burung: Perilaku Alami yang Sering Disalahpahami Kicau Mania
Baca dalam 60 detik
- Studi pertama tentang evolusi masturbasi burung mengungkap perilaku ini sudah ada sejak lama dan lebih sering terjadi di alam liar, bukan karena stres penangkaran.
- Para peneliti meneliti 120 spesies burung dan menemukan masturbasi dilakukan jantan dan betina dari segala usia, terkait dengan strategi reproduksi spesies poligami.
- Pemilik burung di Indonesia kerap panik dan menghukum burung yang masturbasi, padahal menghentikannya justru bisa mengganggu kesejahteraan hewan.

Masturbasi pada burung bukanlah perilaku menyimpang atau tanda stres, melainkan aktivitas alami yang telah diwariskan secara evolusioner—temuan ini membantah anggapan umum di kalangan kicau mania dan pemilik burung peliharaan.
Sebuah studi komprehensif yang melibatkan 120 spesies burung dari 22 kelompok utama untuk pertama kalinya memetakan sejarah evolusi masturbasi pada unggas. Penelitian yang dipublikasikan oleh para ahli biologi ini menunjukkan bahwa masturbasi banyak ditemukan pada burung dengan kerabat dekat, mengindikasikan perilaku tersebut sudah ada sejak nenek moyang mereka.
Peneliti mengumpulkan data dari publikasi ilmiah, laporan daring, forum komunitas, dan survei terhadap ahli burung. Hasilnya mengejutkan: masturbasi justru lebih jarang terjadi di penangkaran dibandingkan di alam liar. Aktivitas ini lebih umum dilakukan oleh burung yang dibesarkan induknya sendiri, bukan oleh manusia. Artinya, masturbasi bukanlah dampak negatif dari penangkaran, melainkan bagian dari perilaku alami yang normal.
Temuan ini sekaligus mengoreksi pemahaman tradisional yang menganggap masturbasi pada burung—terutama burung bayan (parrot)—sebagai tanda stres, kesehatan buruk, atau lingkungan yang tidak memadai. Akibatnya, banyak pemilik burung di Indonesia yang panik dan berusaha mencegah perilaku ini dengan berbagai cara, mulai dari mengubah pola makan, memberikan obat-obatan, hingga operasi.
Penelitian juga mengungkap fungsi biologis masturbasi pada burung. Pada jantan, masturbasi membantu mengeluarkan sperma lama sehingga sperma baru yang lebih segar siap membuahi sel telur, meningkatkan peluang reproduksi saat persaingan ketat. Pada betina, masturbasi diduga meningkatkan gairah seksual untuk memfasilitasi kawin diam-diam dengan pejantan selain pasangan utamanya.
Di Indonesia, fenomena ini sering menjadi bahan diskusi di forum kicau mania. Banyak video burung masturbasi beredar di media sosial, diikuti kekhawatiran pemilik. Padahal, menurut para ahli, mencegah masturbasi pada burung justru dapat mengganggu kesejahteraan hewan. Kicau mania perlu diedukasi bahwa perilaku ini wajar dan tidak perlu dihukum.
Meski demikian, masturbasi yang dilakukan secara kompulsif atau terus-menerus bisa menjadi indikator masalah kesehatan atau kesalahan pemeliharaan. Dalam kasus ekstrem, pemilik disarankan berkonsultasi dengan dokter hewan yang memahami perilaku burung.
Peneliti juga menyoroti minimnya studi tentang masturbasi burung di masa lalu, mungkin karena anggapan bahwa kloaka—lubang saluran pembuangan dan reproduksi burung—memiliki sensitivitas lebih rendah. Namun, bukti menunjukkan burung memperoleh kepuasan dari aktivitas ini, membuka pertanyaan baru tentang pengalaman seksual pada unggas.
Ke depan, penelitian lebih lanjut tentang kepuasan seksual burung dapat bermanfaat bagi program perkembangbiakan di penangkaran dan kesejahteraan hewan secara umum. Apakah burung benar-benar merasakan kenikmatan yang sama seperti mamalia? Masih terlalu dini untuk menyimpulkan, tetapi temuan ini mengajak kita memandang ulang perilaku hewan dengan lebih terbuka.



